November 17, 2008

dasar perlindungan tanaman

ARTI PENYAKIT TUMBUHAN BAGI MASYARAKAT
 
   
           
   
I.1
MORFOLOGI UMUM HAMA  
 
Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama , maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar-dasar Perlintan  akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama . Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis-jenis hama yang dijumpai di lapangan.

Dunia binatang ( Animal Kingdom ) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).

Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain-lain). Dalam uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar anggota filum tersebut.

FILUM ASCHELMINTHES
Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama , sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator (pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian-uraian selanjutnya.
Secara umum ciri-ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain adalah :
Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)
Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak
Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.

Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan nematoda parasit.

Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet . Tipe stomatostylet tersusun atas bagian-bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet (bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Tylenchida.

Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda parasit ini antara lain adalah :
Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain-lain.
Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.
Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.

FILUM MOLLUSCA
Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.

Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi.

FILUM CHORDATA
Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar-benar merupakan hama tanaman. Jenis-jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus.

Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)
Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C. nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama dijumpai pada daerah-daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa, Kalimantan , dan Sumatera pada daerah dengan ketinggian sampai 1500 m.
Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang-kadang juga diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih teratur/rapi.

Keluarga tikus (fam. Muridae)
Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan antara lain, tikus rumah ( Rattus-rattus diardi Jent ) ; tikus pohon (Rattus-rattus tiomanicus Mulle) , serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver _Rob.&K) .
Tikus rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu-abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11-20 cm dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah puting susunya ada 10 buah.
Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang-kadang agak keabu-abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah putting susunya ada 10 buah.
Tikus sawah memiliki ciri-ciri tubuh antara lain bulu-bulu tubuh bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16-22 cm serta jumlah puting susu ada 12 buah.

FILUM ARTHOPODA
Merupakan filum terbesar di antara filum-filum yang lain karena lebih dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda. Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau Hexapoda (serangga).

Klas Arachnida
Tanda-tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah :
Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax (gabungan caput dan thorax) dan abdomen.
Tidak memiliki antene dan mata facet.
Kaki empat pasang dan beruas-ruas.

Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau). Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan dilengkapi dengan bulu-bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax dijumpai adanya empat pasang kaki. Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian-bagian satu pasang chelicerae (masing-masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang pedipaalpus . Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai penusuk. Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :
T
etranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah/jingga pada daun ketela pohon.
Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).
Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).

Klas Insekta (Hexapoda/serangga)
Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk. Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah :
Tubuh terdiri atas ruas-ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga daerah, yaitu  caput, thorax dan abdomen.
Kaki tiga pasang, pada thorax.
Antene satu pasang.
Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang atau bahkan tidak bersayap sama sekali.

Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap-tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi.
Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga , sedang uraian singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta akan diberikan pada uraian selanjutnya.
Berdasarkan sifat morfologinya, maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Tipe larva
Polipoda , tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat/kupu (Lepidoptera)
Oligopoda , tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan   Scarabaeiform,
Apodus (Apodous) , tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae (Coleoptera).

Tipe pupa
Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan ( appendages ), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga tipe :
Tipe obtecta , yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.
Tipe eksarat , yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.
Tipe coartacta , yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium .
Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.

Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting

Ordo Orthoptera (bangsa belalang)
Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum . Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur —> nimfa —> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :
Kecoa ( Periplaneta sp.)
Belalang sembah/mantis ( Otomantis sp.)
Belalang kayu ( Valanga nigricornis Drum.)

Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding
Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra . Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli. Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :
Walang sangit ( Leptorixa oratorius Thumb.)
Kepik hijau ( Nezara viridula L)
Bapak pucung ( Dysdercus cingulatus F)

Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)
Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya. Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus. Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera. Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman. Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :
Wereng coklat ( Nilaparvata lugens Stal.)
Kutu putih daun kelapa ( Aleurodicus destructor Mask.)
Kutu loncat lamtoro ( Heteropsylla sp.).

Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)
Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain. Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra. Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah , umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala. Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong (pupa) —> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera. Beberapa contoh anggotanya adalah :
Kumbang badak ( Oryctes rhinoceros L)
Kumbang janur kelapa ( Brontispa longissima Gestr)
Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)
Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama , namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.
Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap , sedang larvanya memiliki tipe penggigit . Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna. Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva bertipe polipoda , memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta. Beberapa jenisnya antara lain :
Penggerek  batang padi kuning ( Tryporiza incertulas Wlk)
Kupu gajah ( Attacus atlas L)
Ulat grayak pada tembakau ( Spodoptera litura )

Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)
Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter . Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet. Tipe alat mulut  bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :
bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum
bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum
bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc .

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda _ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama , parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta. Beberapa contoh anggotanya adalah :
lalat buah ( Dacus spp.)
lalat predator pada Aphis ( Asarcina aegrota F)
lalat rumah ( Musca domestica Linn.)
lalat parasitoid ( Diatraeophaga striatalis ).

Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)
Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk. Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli. Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.
Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva–> kepompong —> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman. Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :
Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi).
Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).
Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng)
Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar. Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air. Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama , seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi. (baca lebih lengkap)

           
           
   
           
    II.1 DEFINISI ATAU ISTILAH  
     

Tanaman yang merupakan tumbuhan yang diusahakan dan diambil manfaatnya, dapat ditinjau dari dua sudut (pandangan) :
1. Sudut BIOLOGI yang berarti organisme yang melakukan kegiatan fisiologis seperti tumbuh, berpihak dan lain-lain.
2. Sudut EKONOMI yang berarti penghasil bahan yang berguna bagi manusia seperti buah, biji, bunga, daun, batang dan lain-lain.
Sedang penyakit sendiri sebenarnya berarti proses di mana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Patogen atau penyebab penyakit dapat berupa organisme, yang tergolong dalam dunia tumbuhan, dan bukan organisme yang biasa disebut fisiophat. Sedangkan organisme dapat dibedakan menjadi : parasit dan saprofit.
Sumber inokulum atau sumber penular adalah tempat dari mana inokulum atau penular itu berasal dan sesuai dengan urutan penularannya dibedakan menjadi sumber penular primer, sumber penular sekunder, sumber penular tertier dan seterusnya. Selama perkembangan penyakit dapat kita kenal beberapa peristiwa yaitu :
1.  Inokulasi adalah jatuhnya inokulum pada tanaman inangnya.
2.  Penetrasi dalah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman inangnya.
3. Infeksi adalah interaksi antara patogen dengan tanaman inangnya.
4. Invasi adalah perkembangan patogen di dalam jaringan tanaman inang.

Akibatnya adanya infeksi dan invasi akan timbul gejala, yang kadang-kadang merupakan rangkaian yang disebut syndrom . Pada gejala itu sering kita jumpai adanya tanda, misalnya tubuh buah atau konidi. Sehubungan dengan peristiwa-peristiwa di atas terjadilah :
Periode (masa) inkubasi yaitu waktu antara permulaan infeksi dengan timbulnya gejala yang pertama. Namun demikian di dalam praktek sering dihitung mulai dari inokulasi sampai terbentuknya sporulasi pada gejala pertama tersebut hingga waktunya menjadi jauh lebih panjang.
Periode (masa) infeksi adalah waktu antara permulaan infeksi sampai reaksi tanaman yang terakhir, untuk inipun biasanya dihitung mulai saat inokulasi.
Siklus atau daur penyakit adalah rangkaian kejadian selama perkembangan penyakit. Di samping itu ada yang disebut siklus hidup patogen yaitu perkembangan patogen dari suatu stadium kembali ke stadium yang sama. Siklus ini biasanya dapat dibedakan menjadi :
1. Stadium Patogenesis adalah stadium patogen di mana berhubungan dengan jaringan hidup tanaman inangnya.
2. Stadium Saprogenesis adalah stadium patogen di mana tidak berhubungan dengan jaringan hidup tanaman inangnya.

Berdasarkan kondisi sel yang dipakai sebagai sumber makanannya maka parasit atau patogen dapat dibedakan menjadi :
1. Patofit apabila parasit itu mengisap makanan dari sel inang yang masih hidup.
2. Pertofit apabila parasit itu mengisap makanan dari sel inang yang dibunuhnya lebih dahulu.

Faktor yang mempengaruhi dapat tidaknya tanaman diserang oleh patogen, dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Predisposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikan kerentanan atau penurunan ketahanan itu berupa faktor luar seperti suhu, kelembaban dan lain-lain.
2. Disposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikkan kerentanan itu berasal dari dalam artinya bersifat genetis atau bawaan.

Berdasarkan ekspresinya penyakit dapat dibedakan menjadi :
1. Endemi (Enfitosis) yaitu penyakit yang selalu timbul dan menyebabkan kerugian yang cukup berarti.
2. Epidemi (Epifitosis) yaitu penyakit yang timbulnya secara berkala dan menimbulkan kerugian yang cukup berarti.
3. Sporadis yaitu penyakit yang timbulnya tidak menentu dan tidak menimbulkan kerugian yang berarti.

Tanggapan tanaman inang terhadap patogen dapat merupakan sifat dari tanaman inang tersebut dan dapat dibedakan menjadi :
1. Tahan apabila dalam keadaan biasa tanaman tersebut tidak dapat diserang oleh patogen.
2. Rentan apabila dalam keadaan biasa tanaman tersebut dapat diserang oleh patogen, jadi merupakan lawan dari tahan.
3. Toleran apabila dalam keadaan biasa dapat menyesuaikan diri dengan patogen yang berada dalam jaringan tubuhnya sehingga tidak mempengaruhi kemampuan produksinya.
Bentuk yang ekstrem dari ketahanan tersebut disebut Kekebalan sedang bentuk ekstrem dari toleran disebut Inapparency , artinya dalam keadaan yang bagaimanapun juga tetap memiliki sifat tersebut.

           
    II.2   
     

Pada tahun seribuan di Eropa timbul penyakit pada manusia yang banyak menyebabkan kematian. Penyakit itu disebut Ergotisme. Penyakit ini ternyata disebabkan karena penderita memakan roti yang terbuat dari tepung rogge atau rye ( Secale coreale ), yang terserang oleh jamur Clavicopes purpurea . Jamur ini menghasilkan racun pada tepung yang tidak rusak meskipun sudah dimasak menjadi roti, hingga masih tetap menyebabkan kematian bagi manusia yang memakannya.

Pada tahun 1845 timbul penyakit pada kentang yang disebut bercak daun (late blight) yang disebabkan oleh jamur Phytophtora infestans di Eropa dan Amerika. Penyakit ini di Irlandia selama tahun 1845-1860 menyebabkan bahaya kelaparan dan kematian sebanyak satu juta penduduk yang meliputi 1/8 dari seluruh jumlah penduduk negara tersebut sedang yang 1,5 juta terpaksa mengadakan emigrasi ke negara lain.

Pada tahun 1880 timbul penyakit pada kopi yang disebut penyakit karat daun disebabkan oleh jamur Homileia vastatrix . Jamur ini memusnahkan kopi jenis Arabica yang juga dikenal sebagai kopi Jawa. Untuk mengatasi penyakit ini perkebunan kopi di Philipina diganti menjadi kebun kelapa sedang di Srilangka diganti menjadi perkebunan teh. Di Indonesia perkebunan kopi tetap dipertahankan, sebagai ganti jenis Arabica mula-mula ditanam kopi Liberica, tetapi jenis ini hancur juga lalu diganti dengan jenis Robusta. Jenis yang terakhir ini meskipun mutu bijinya lebih rendah tapi produksinya lebih tinggi sehingga nilai ekonominya hampir sama saja. Sekarang ini jenis kopi Arabica hanya terdapat di daerah yang tinggi saja seperti di Ijen dan Toraja. Sekarang dicoba menanam hibrida antara kopi Arabica dengan Robusta untuk menaikkan mutu biji dan mempertahankan produksi, yang disebut kopi jenis Arabusta. Tetapi usaha ini banyak mengalami kesukaran.

Pada permulaan abad 19 timbul penyakit pada tebu yang disebut penyakit sereh oleh virus Nanus sachori . Sebelum dapat diketahui dengan pasti patogen ini sempat menjadi teka-teki antara penyakit fisiologis dan penyakit parasiter. Penyakit ini pertama-tama diatasi dengan menanam bibit yang berasal dari pegunungan yang dikenal dengan tebu import. Tetapi cara ini banyak mengalami kesukaran hingga perkebunan tebu hampir saja gulung tikar. Untuk mengatasi bahaya yang gawat ini pemerintah mendirikan tiga kali balai penelitian tebu, yang akhirnya balai penelitian yang ada di Pasuruan menemukan jenis tanah yang terkenal dengan nama POJ (Proefstation Ost Java). POJ ini merupakan hasil persilangan antara tebu ( Sacharum offisinarum ) dengan glagah ( Sacharum spontaneum ). Hibrida inilah yang menyelamatkan perkebunan tebu itu.

Pada tahun 1850-an timbul penyakit pada padi yang disebut penyakit mentek yang penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Penyakit ini menyerang ribuan hektar sawah dan menimbulkan kerugian ribuan ton, tetapi akhirnya ditemukan jenis yang tahan. Penyakit tersebut sekarang diduga sama dengan penyakit tungro yang disebabkan oleh virus.

Pada abad terakhir ini timbul penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) yang disebabkan oleh makhluk semacam bakteri. Penyakit ini sangat merugikan karena selain memperkecil ukuran buah jeruk juga mengurangi jumlahnya, bahkan akhirnya dapat mematikan tanaman jeruk. Penyakit ini belum dapat diatasi dengan cara apapun. Salah satu usaha untuk memperpanjang umur ekonomi adalah dengan cara infus menggunakan antibiotika Oxy tetracicline, sebab cara eradikasi tidak dapat dilaksanakan di Indonesia ini.

Beberapa tahun terakhir ini timbul penyakit cacar daun cengkeh (CDC) yang disebabkan oleh jamur Phylosticta sp. Di Lampung meskipun baru beberapa tahun boleh dikata hampir memusnahkan perkebunan cengkeh di sana . Dalam tahun 1982/1983 saja di propinsi tersebut menghabiskan biaya pengendalian sebesar 9 milyar rupiah. Penyakit ini sudah terdapat di propinsi-propinsi yang lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan lain-lain.

       

 

 
    II.3  GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN  
     

Di dalam mempelajari ilmu penyakit tumbuhan (Fitopatologi) sebelum seseorang melangkah lebih lanjut untuk menelaah suatu penyakit secara mendalam, terlebih dahulu harus bisa mengetahui tumbuhan yang dihadapi sehat ataukah sakit. Untuk keperluan diagnosis, maka pengertian tentang tanda dan gejala perlu diketahui dengan baik.

Gejala dapat setempat (lesional)atau meluas (habital, sistemik). Gejala dapat dibedakan yaitu gejala primer dan sekunder. Gejala primer terjadi pada bagian yang terserang oleh penyebab penyakit. Gejala sekunder adalah gejala yang terjadi di tempat lain dari tanaman sebagai akibat dari kerusakan pada bagian yang menunjukkan gejala primer. Berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam sel, gejala dapat dibagi menjadi tiga tipe pokok yaitu :
a. Gejala-gejala Nekrotis : meliputi gejala-gejala yang terjadinya karena adanya kerusakan pada sel atau matinya sel.
b. Gejala-gejala Hypoplastis : meliputi gejala-gejala yang terjadinya karena terhambatnya atau terhentinya pertumbuhan sel (underdevelopment).
c. Gejala-gejala Hyperplastis : meliputi gejala-gejala yang terjadinya karena pertumbuhan sel yang melebihi biasa (overdevelopment).

A. Tipe Nekrotis meliputi :
Hidrosis : sebelum sel-sel mati biasanya bagian tersebut terlebih dahulu tampak kebasah-basahan. Hal ini karena air sel keluar dari ruang sel masuk ke dalam ruang antar sel.
Klorosis : rusaknya kloroplast menyebabkan menguningnya bagian-bagian tumbuhan yang lazimnya berwarna hijau.
Nekrosis : bila sekumpulan sel yang terbatas pada jaringan tertentu mati, sehingga terlihat adanya bercak-bercak atau noda-noda yang berwarna coklat atau hitam. Bentuk bercak ada yang bulat, memanjang, bersudut dan ada yang tidak teratur bentuknya.
Perforasi (shot-hole) atau bercak berlobang : terbentuknya lubang-lubang karena runtuhnya sel-sel yang telah mati pada pusat bercak nekrotis.
Busuk : gejala ini sebenarnya sama dengan gejala nekrosis tetapi lazimnya istilah busuk ini digunakan untuk jaringan tumbuhan yang tebal. Berdasarkan keadaan jaringan yang membusuk, dikenal istilah busuk basah (soft rot) dan busuk kering (dry rot). Bila pada jaringan yang membusuk menjadi berair atau mengandung cairan disebut busuk basah, sebaliknya bila bagian tersebut menjadi kering disebut busuk kering.
Damping off atau patah rebah : rebahnya tumbuhan yang masih muda (semai) karena pembusukan pangkal batang yang berlangsung ssangat cepat. Dibedakan menjadi dua yaitu :
Pre Emergen Damping off : bila pembusukan terjadi sebelum semai muncul di atas permukaan tanah.
Post Emergen Damping off : bila pembususkan terjadi setelah semai muncul di atas permukaan tanah.
Eksudasi atau perdarahan : terjadinya pengeluaran cairan dari suatu tumbuhan karena penyakit. Berdasarkan cairan yang dikeluarkan dikenal beberapa istilah yaitu :
Gumosis : pengeluaran gom (blendok) dari dalam tumbuhan.
Latexosis : pengeluaran latex (getah) dari dalam tumbuhan.
Resinosis : pengeluaran resin (damar) dari dalam tumbuhan.
Kanker
: terjadinya kematian jaringan kulit tumbuhan yang berkayu misalnya akar, batang dan cabang. Selanjutnya jaringan kulit yang mati tersebut mengering, berbatas tegas, mengendap dan pecah-pecah dan akhirnya bagian itu runtuh sehingga terlihat bagian kayunya.
Layu : hilangnya turgot pada bagian daun atau tunas sehingga bagian tersebut menjadi layu.
Mati Ujung : kematian ranting atau cabang yang dimulai dari ujung dan meluas ke batang.
Terbakar : mati dan mengeringnya bagian tumbuhan tertentu laximnya daun, yang disebabkan oleh patogen abiotik. Gejala ini terjadi secara mendadak.

B.   TIPE HIPOPASTIS meliputi
Etiolasi : tumbuhan menjadi pucat, tumbuh memanjang dan mempunyai daun-daun yang sempit karena mengalami kekurangan cahaya.
Kerdil (atrophy) : gejala habital yang disebabkan karena terhambatnya pertumbuhan sehingga ukurannya menjadi lebih kecil daripada biasanya.
Klorosis : terjadinya penghambatan pembentukan klorofil sehingga bagian yang seharusnya berwarna hijau menjadi berwarna kuning atau pucat. Bila pada daun hanya bagian sekitar tulang daun yang berwarna hijaumaka disebut voin banding. Sebaliknnya jika bagian-bagian daun di sekitar tulang daun yang menguning disebut voin clearing.
Perubahan simetri : hambatan pertumbuhan pada bagian tertentu yang tidak disertai dengan hambatan pada bagian di depannya, sehingga menyebabkan terjadinya penyimpangan bentuk.
Roset : hambatan pertumbuhan ruas-ruas (internodia) batang tetapi pembentukan daun-daunnya tidak terhambat, sebagai akibatnya daun-daun berdesak-desakan membentuk suatu karangan.

C.   TIPE HIPERPLASTIS meliputi
Erinosa : terbentuknya banyak trikom (trichomata) yang luar biasa sehingga pada permukaan alat itu (biasanya daun) terdapat bagian yang seperti beledu.
Fasiasi (Fasciasi, Fasciation) : suatu organ yang seharusnya bulat dan lurus berubah menjadi pipih, lebar dan membelok, bahkan ada yang membentuk seperti spiral.
Intumesensia (intumesoensia) : sekumpulan sel pada daerah yang agak luas pada daun atau batang memanjang sehingga bagian itu nampak membengkak, karena itu gejala ini disebut gejala busung (cedema).
Kudis (scab) : bercak atau noda kasar, terbatas dan agak menonjol. Kadang-kadang pecah-pecah. Di bagian tersebut terdapat sel-sel yang berubah menjadi sel-sel gabus. Gejala ini dapat dijumpai pada daun, batang, buah atau umbi.
Menggulung atau mengeriting : gejala ini disebabkan karena pertumbuhan yang tidak seimbang dari bagian-bagian daun. Gejala menggulung terjadi apabila salah satu sisi pertumbuhannya selalu lebih cepat dari yang lain, sedang gejala mengeriting terjadi apabila sisi yang pertumbuhannya lebih cepat bergantian.
Pembentukan alat yang luar biasa : Antolisis (antholysis) : perubahan dari bunga menjadi daun-daun kecil. Enasi : pembentukan anak daun yang sangat kecil pada sisi bawah tulang daun.
Perubahan Warna : perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahan yang bukan klorosis yang terjadi pada suatu organ (alat tanam).
Prolepsis : berkembangnya tunas-tunas tidur atau istirahat (dormant) yang berada dekat di bawah bagian yang sakit, berkembang menjadi ranting-ranting segar yang tumbuh vertikal dengan cepat yang juga dikenal dengan tunas air.
Rontoknya alat-alat : rontoknya daun, bunga atau buah yang terjadi sebelum waktunya dan dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Rontoknya alat tersebut karena terbentuknya lapisan pemisah (abcission layar) yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk bulat dan satu sama lain terlepas.
Sapu (witches broom) : berkembangnya tunas-tunas ketiak atau samping yang biasanya tidur (latent) menjadi seberkas ranting-ranting rapat. Gejala ini umumnya disertai dengan terhambatnya perkembangan ruas-ruas (internodia) batang, daun pada tunas baru.
Sesidia (cecidia) atau tumor : pembenkakan setempat pada jaringan tumbuhan sehingga terbentuk bintil-bintil atau bisul-bisul. Bintil ini dapat terdiri dari jaringan tanaman dengan atau tanpa koloni patogennya. Berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi :
Fitosesidia (phytocecidia) : bila penyebabnya tergolong dalam dunia tumbuhan.
Zoosesidia (zoocecidia) : bila penyebabnya tergolong dalam dunia hewan atau binatang. (baca lebih lengkap)

       

 

 
    II.4 

PENYEBAB PENYAKIT

 
     

Penyebab penyakit (pathogen) tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok biotik atau organis yang biasa disebut parasit dan kelompok abiotik atau anorganik yang biasa disebut fisiopat. Parasit yang paling penting adalah tumbuhan tingkat tinggi, jamur, virus dan nematoda, sedang fisiopat ada yang berasal dari dalam tumbuhan sendiri dan ada yang datangnya dari luar tanaman.

Tumbuhan Tinggi Parasitik
Tumbuhan tinggi parasitik dapat dibedakan menjadi dua golongan :
Tumbuhan Setengah Parasitik dan Tumbuhan Parasitik Sejati .

Jamur
Jamur adalah jenis tumbuhan yang tumbuhnya berupa thallus (belum ada defferensiasi menjadi akar, batang dan daun), tidak berklorofil dan mempunyai inti sejati. Kedua sifat terakhir untuk membedakan dengan Gangang dan Bakteri. Bagian vegetatif jamur berupa benang-benang halus tumbuh memanjang bercabang-cabang, bersekat atau tidak disebut hifa (hyphae), kumpulan dari hifa-hifa ini disebut miselium (micelium). Berdasarkan ada tidaknya sekat, hifa dibedakan menjadi coenocytis (yang tidak bersekat) dan celluler (yang bersekat). Miselium dapat membentuk berkas memanjang dan mempunyai lapisan luar yang liat dan keras. Berkas semacam ini disebut rhizomorf. Ada pula jamur yang membentuk alat untuk beristirahat atau bertahan disebut sclerotium, yaitu suatu massa hifa yang rapat/padat, sel-selnya memendek dan membesar serta berisi banyak cairan.

PERKEMBANGBIAKAN
Jamur dapat berkembang biak secara asexual maupun sexual. Pembiakan asexual : pada Phycomycetes pembiakan asexual dengan pembentukan sporangiospora, yaitu spora yang dibentuk di dalam kantong yang disebut sporangium. Sporangiospora yang dapat bergerak disebut spora kembara (zoospora) sedang yang tidak dapat bergerak disebut aplanospora. Pada golongan yang lebih tinggi dengan membentuk konidi yaitu spora yang dibentuk dengan fragmentasi dari ujung hifa. Ujung hifa disebut conidiophor (penduduk konidi). Conidiophor ini dapat tersebar, bebas satu sama lain, tetapi ada juga yang terdapat di dalam tubuh buah tertentu. Bentuk tubuh buah ini bermacam-macam, diantaranya :
Pycnidium : tubuh buah yang berbentuk bulat/botol, yang mempunyai lubang untuk keluarnya konidi, yang disebut ostiole.
Acervulus : tubuh buah yang bentuknya seperti cawan.
Sporodochium : tubuh buah yang bentuknya seperti acervulus, tetapi stroma dasarnya menonjol keluar.
Coremium : tubuh buah yang seperti sporodochium tetapi tangkai konidinya membentuk suatu berkas yang panjang.

Pembiakan sexual : pada kelas Phycomycetes, pembiakan sexual berlangsung dengan persatuan antara dua gamet yang sama baik ukuran maupun sifat morfologinya. Proses persatuan ini disebut Isogami, sedang gametnya disebut Isogamet. Pada kelas yang lebih tinggi tingkatannya terjadi persatuan antara dua gamet yang berbeda ukuran dan sifat morfologinya. Proses perstuannya disebut Anisogami atau Heterogami, sedang gametnya disebut anisogamet atau heterogamet. Gamet yang kecil dianggap sebagai jantan disebut antheridium, sedang yang besar dianggap sebagai gamet betina disebut oosphere yang dibentuk di dalam oogonium. Antheridium dapat melekat di samping oogonium disebut paragynus, atau melekat pada pangkal oogonium disebut amphigynus. Pembiakan sexual pada Ascomycetes terjadi dengan persatuan dua inti (kariogami) yang berbeda jenisnya di dalam tubuh buah yang disebut ascoma (ascocarp). Hasil dari persatuan ini akan terbentuk ascus dan dari ascus ini akan dibentuk ascospora yang pada umumnya berjumlah delapan. Seperti halnya dengan konidi, ascus letaknya dapat tersebar tetapi dapat pula terkumpul dalam tubuh buah tertentu, misalnya.
Apothecium : tubuh buah yang berbentuk cawan/pinggan yang terbuka,    ascus terletak pada permukaannya.
Perithecium : tubuh buah berbentuk bulat/botol dan pada ujungnya mempunyai lubang (ostiole) untuk keluarnya spora.
Cleistothecium : tubuh buah berbentuk bulat/botol tapi tidak mempunyai ostiole.

Pada kelas Basidiomycetes pembiakan sexual terjadi dengan pembentukan basidiospora yang berasal dari persatuan dua inti (kariogami) yang berbeda jenis, kemudian mengadakan pembelahan secara meiosis. Basidiospora dibentuk di luar basidium dan mempunyai tangkai yang disebut strigma. Pada umumnya setiap basidium membentuk 4 basidiospora. Hymenium yang membentuk basidium biasanya terdapat dalam tubuh buah yang dapat berbentuk payung, bola, rak, gada dan lain-lain.

TAXONOMI
Jamur dibagi menjadi empat kelas yaitu :
Phycomycetes : jamur yang hifanya tidak bersekat, berbentuk tabung yang berisi plasma dengan banyak inti.
Ascomycetes : jamur yang hifanya bersekat dan mengadakan pembiakan sexual dengan membentuk ascus yang menghasilkan ascospora.
Basidiomycetes : jamur yang hifanya bersekat dan mengadakan pembiakan sexual dengan membentuk basidium yang menghasilkan basidiospora.
Deuteromycetes (Fungsi Imperfecti) : jamur yang hifanya bersekat dan hanya berkembang biak secara asexual saja.

Kelas Phycomycetes : dari kelas ini ada tiga ordo yang penting yaitu ordo Chytridiales, ordo Peronosporales dan ordo Mucorales. Ordo Chytridiales adalah ordo yang hifanya tidak berkembang sempurna. Salah satu anggotanya yang penting adalah Synchytrium endobioticum, penyebab penyakit kutil (wart) pada kentang.

Ordo Peronosporales adalah ordo yang hifanya berkembang sempurna dan perkembangbiakan asexual dengan cospora. Ordo ini mempunyai dua familia yaitu Pythiacae dan Peronosporacae. Familia Pythiacae percabangan konififornya aympodial dan tidak berbeda dengan hifa somatisnya. Famili ini mempunyai dua genus yaitu Pythium, yang mempunyai sporangium bulat. Pada perkecambahan secara tidak langsung protoplast sporangium keluar dan membentuk gelembung (vesicle) selanjutnya mengalami deferenciasi membentuk zoospora di luar sporangium. Genus kedua adalah Phytopthora, yang sporangiumnya berbentuk bulat telur, pada perkecambahan secara tidak langsung protoplast sporangium mengalami deferenciasi di dalam sporangium dan membentuk zoospora yang keluar melalui lubang yang disebut papillum yang terdapat pada ujung sporangium. Genus ini merupakan genus yang sangat penting karena anggotanya banyak yang menjadi penyebab penyakit yang terpenting pada berbagai komoditi, seperti P. infestans, P. nicotianse, P. parasitica, P. palmivora dan lain-lain. Familia Peronospora menimbulkan penyakit yang dikenal dengan downy mildew (tepung palsu). Konidiofor mempunyai percabangan monopodial dan jelas berbeda dengan hifa somatis. Familia ini mempunyai beberapa genus antara lain Soleospora yang anggotanya S. maydis, S. philippinensis ; Plasmopora yang anggotanya P. viticola ; Peronospora yang anggotanya P. tabacina penyebab penyakit jamur biru (blue mold) pada tembakau di Amerika.

Ordo Mucorales mempunyai hifa yang berkembang sempurna dan perkembangbiakannya dengan zygospora. Familianya adalah Mucoracae, kurang penting bagi penyebab penyakit pada tanaman hidup di lapangan, tetapi sangat penting bagi penyebab penyakit lepas panen atau di dalam industri. Genus yang penting, Rhizopus mempunyai rhizoid pada pangkal konidiofornya dan sangat penting dalam pembuatan tempe . Sedang Mucor tidak mempunyai rhizoid pada pangkal konidiofornya dan sangat penting dalam pembuatan tape.

Kelas Ascomycetes : dibagi menjadi dua kelas berdasarkan ada tidaknya ascoma, yaitu sub kelas Protoascomycetes (Hemiascomycetidae) yang tidak mempunyai ascoma dan Euascomycetes yang mempunyai ascoma.

Sub kelas Protoascomycetes tidak penting dari segi penyakit tumbuhan, tetapi salah satu anggotanya yaitu Sacoharomycetes penting dalam industri pembuatan alkohol.

Sub kelas Euascomycetes dibagi menjadi tiga seri berdasarkan macam ascomanya yaitu seri Plectomycetes yang ascomanya Cleistothecium, seri Pyrenomycetes yang ascomanya Perithecium dan seri Discomycetes yang ascomanya Apothecium.

Seri Plectomycetes dibagi menjadi tiga ordo yaitu Erysiphales yang hifa dan konidinya hialin, ordo Myriangiales yang hifa dan konidinya berwarna kelam dan ordo Aspergillales yang hifa dan konidinya dapat berwarna kelam maupun hialin.

Anggota Erysiphales yang penting adalah Oidium, misalnya O. tabaci, O. heveae dan  O. citri . Anggota Myriangiales misalnya Parodiella spegasinli sedang anggota dari Aspergillales adalah genus Aspergillus yang mempunyai columella dan genus Penicillium yang tidak mempunyai columella (gelembung). Kedua genus ini sangat penting untuk penyakit lepas panen dan beberapa di antaranya dapat mengeluarkan racun (toxin) yang berbahaya bagi konsumen substratnya. Seri Pyrenomycetes mempunyai tiga ordo yaitu Sphaeriales yang anggotanya banyak yang menjadi penyebab penyakit akar misalnya Rosellinia arcuate, Rosellinia bunodes ; ordo Hypocreales yang sebagian besar hifanya berubah menjadi klamidospora misalnya Ustilaginoidea virens ; ordo Dothideales yang salah satu anggotanya menjadi penyebab penyakit pada karet yang sangat membahayakan yaitu Dothidella ulei.

Kelas Basidiomycetes : dibagi menjadi dua sub kelas berdasarkan ada tidaknya sekat di dalam basidia yaitu sub kelas Homobasidiomycetidae atau Holobasidiomycetidae yang basidianya tidak bersekat dan sub kelas Heterobasidiomycetidae atau Hemibasidiomycetidae yang basidianya bersekat.

Sub kelas Hemibasidomycetidae dibagi menjadi tiga ordo yaitu ordo Ustilaginales atau jamur api karena menyebabkan penyakit yang gejalanya gosong dengan miselium di dalam jaringan setelah tua akan berubah menjadi klamidospora; ordo Uredinales atau jamur karat karena gejala penyakit yang ditimbulkannya berwarna seperti karat (merah orange); ordo Auriculales yang mempunyai basidia dan sterigma yang panjang, umumnya hidup secara saprofitis hingga kuran penting bagi segi penyakit tumbuhan.

Ordo Ustilaginales berdasarkan letak sporidia (basidiospora) pada basidia (promiselia) dibagi menjadi dua famili, yaitu Ustilaginaceae yang sporidianya terletak pada sisi lateral promiselianya misalnya Ustilago maudis, U. sacohari dan familia Tilletiaceae yang sporidianya terletak pada ujung terminal dari promiselianya misalnya Tilletia horrida.

Ordo Uridinales merupakan kelompok jamur yang penting karena banyak menjadi penyebab penyakit terpenting pada bermacam-macam tanaman dengan ciri-ciri :
Miselliumnya mengandung tetes-tetes minyak yang berwarna kuning, dalam daur hidupnya yang lengkap mempunyai lima macam spora,  berupa parasit obligat yang tumbuhnya intercelluler dan mengambil makanannya dengan haustoria, Teliospora bila berkecambah membentuk promiselia. (baca lebih lengkap)

       

         

 
   
           
     

KERUGIAN AKIBAT GULMA

 
     

Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat ataupun perkebunan besar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma terhadap tanaman budidaya bervariasi, tergantung dari jenis tanamannya, iklim, jenis gulmanya, dan tentu saja praktek pertanian di samping faktor lain. Di Amerika Serikat besarnya kerugian tanaman budidaya yang disebabkan oleh penyakit 35 %, hama 33 %, gulma 28 % dan nematoda 4 % dari kerugian total. Di negara yang sedang berkembang, kerugian karena gulma tidak saja tinggi, tetapi juga mempengaruhi persediaan pangan dunia.

Tanaman perkebunan juga mudah terpengaruh oleh gulma, terutama sewaktu masih muda. Apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, maka kemungkinan besar usaha tanaman perkebunan itu akan rugi total. Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal pertumbuhan tanaman perkebunan akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen. Beberapa gulma lebih mampu berkompetisi daripada yang lain (misalnya Imperata cyndrica ), yang dengan demikian menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Persaingan antara gulma dengan tanaman yang kita usahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Cramer (1975) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman dalah sebagai berikut : padi 10,8 %; sorgum 17,8 %; jagung 13 %; tebu 15,7 %; coklat 11,9 %; kedelai 13,5 % dan kacang tanah 11,8 %. Menurut percobaan-percobaan pemberantasan gulma pada padi terdapat penurunan oleh persaingan gulma tersebut antara 25-50 %. Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh :
Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup.
Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma.
Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.
Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi.
Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.

Gulma air mengurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok ( Eichhornia crssipes ). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air. Dalam kurun waktu yang panjang kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Di negara-negara sedang berkembang (Indonesia, India, Filipina, Thailand) kerugian akibat gulma sama besarnya dengan kerugian akibat hama. (baca lebih lengkap)

penyakit tanaman dan pengendaliannya

1.   Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)

Penyebab :

Bakteri Liberobacter asiaticum

Nama Internasional :

Huang Lung Bin

Daerah penyebaran :

Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Gejala  Penyakit :

  • Gejala luar

    • Gejala khas CVPD adalah belang-belang kuning (blotching), mulai berkembang pada bagian ujung tanaman (pertumbuhan baru) pada daun yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Gejala ini sulit dibedakan dengan gejala kekurangan hara Zn. Tulang-tulang daun dan urat-urat daun tampak lebih menonjol dengan warna hijau gelap (kontras dengan warna lamina daun). Pengamatan gejala sebaiknya dilakukan pada permukaan atas dan bawah daun. Gejala belang-belang pada bagian atas sama dengan bagian bawah. Pada gejala lanjut daun menjadi lebih kaku dan lebih kecil, tulang daun menjadi berwarna kuning. Gejala ini sangat jelas pada jeruk manis, tetapi kurang jelas pada daun jeruk Mandarin.

    • Infeksi pada tanaman muda ditandai dengan kuncup yang berkembang lambat, pertumbuhannya menjulang ke atas, daun menebal, ukuran menjadi lebih kecil dengan gejala khas blotching, mottle, belang-belang kuning tidak teratur.

    • Pada tanaman dewasa, gejala sering bervariasi.   

a.  Gejala greening sektoral diawali dengan munculnya gejala blotching pada cabang-cabang tertentu, diiringi dengan pertumbuhan tunas air  lebih banyak dari tanaman normal di luar musim pertunasan. Daun-daun pada cabang sakit mencuat ke atas seperti sikat.

b.  Pada gejala berat, daun bisa menguning seluruhnya (seperti defisiensi unsur N) dan terjadi pengerasan tulang daun primer dan sekunder yang dikenal dengan Vein Crocking, daun juga menjadi lebih kaku dan menebal. Gejala ini merupakan indikator adanya kerusakan lebih berat pada pembuluh angkut/pholem.

c.  Pada tanaman yang sudah berproduksi, menyebabkan ukuran buah menjadi lebih kecil-kecil hingga sebesar kelereng “nilek” dan bentuk tidak simetris (Lop sided). Kadang-kadang ditemukan buah “red nose” (warna orange pada pangkal buah, terutama di tempat-tempat yang terlindung dari sinar matahari. Buah jeruk yang terserang bijinya abortus, kehitaman dan rasanya asam.

  • Gejala dalam

    • Irisan tipis ibu tulang daun yang bergejala khas CVPD, terlihat jaringan floemnya tampak lebih tebal, karena adanya pengempisan pembuluh tapis dalam floem berupa jalur-jalur putih. Bila diberi pewarna KI akan terlihat adanya akumulasi pati yang berlebihan dalam sel-sel tersebut

    •  Dalam menetapkan bahwa tanaman jeruk terserang CVPD harus hati-hati. Di lapangan, baik petugas maupun petani masih mengalami kerancuan, karena gejala serangan penyakit ini mirip dengan gejala kekurangan unsur makro/mikro (Zn,Fe, Mn, Mg, dan lain-lain). 

    • Untuk mengetahui lebih lanjut, apakah tanaman jeruk terserang penyakit CVPD dapat diketahui dengan menggunakan : 1) Mikroskop Elektron, 2) Polymerase Chain Reaction-PCR (Spesifik primer), 3) Uji Serologi (metoda I – ELISA dan DIBA), 4) Hibridisasi DNA,   5) Uji penularan dengan penyambungan (okulasi mata tempel) dan serangga vektor, serta 5) Uji dengan tanaman indikator Madame  vinous dan Vinca rosea

Morfologi dan daur penyakit :

Belum ada laporan mengenai bentuk morfologi patogen. Patogen ini dapat ditularkan melalui bibit tanaman sakit dan vektor Diaphorina citri yang viruliverous (mengandung patogen penyebab penyakit yang dapat ditularkan). Penularan melalui  alat-alat pertanian yang digunakan dalam pengolahan tanah maupun pemangkasan masih perlu dibuktikan. Vektor D. citri baru dapat menularkan CVPD ke tanaman sehat 168 – 380 jam setelah menghisap tanaman sakit. Gejala penyakit tampak pada tanaman kurang lebih 4,5 bulan setelah penularan penyakit.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :

Tingkat populasi serangga penular, kecepatan angin, tingkat ketahanan varietas berpengaruh terhadap kecepatan penularan penyakit ini.

 

Tanaman inang lain :

Anggota Rutaceae seperti Poncirus tripoliata Raf., Kemuning (Murraya paniculata L.), Swinglea glutinosa Merr., Clausena indica, Atalantia missionis dan Triphasia aurantiola, tapak dara/Periwinkel  (Vinca rosea L.), Maja (Aegle marmeles), dan Kawista (Limnocitrus lettoralis).

 

Pengendalian :

Penerapan PTKJS

Peraturan

Melarang membawa/memasukkan benih jeruk dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit CVPD (belum terserang).

 

2.  Penyakit Tristeza (Quick Decline)

Penyebab :

Virus Tristeza jeruk (Citrus Tristeza Virus =CTV) dengan serangga penular Toxoptera citricida Krik. (Aphis citricidus Kirk., Aphis tavaresi Del Garcio, Aphis citricola Van der Goot), T. auranti Fonsc., Aphis spiraecola Patch., Aphis gossypii Glou, Myzus persicae Sulz. Dan Ferrisia virgata Ckll.

 

Penyebaran :

Di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Di Luar Negeri dilaporkan terdapat di Malaysia, Thailand, Philipina, Taiwan, Fiji, India, Australia, Selandia Baru. Hawaii, Israel, AfrikaSelatan dan Barat, serta Amerika Utara dan Selatan.

 

Gejala :

Gejala infeksi pada tanaman adalah kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (floem), lekukan atau celah-celah pada jaringan kayu pada batang, cabang atau ranting dan gejala daun menguning. Pada varietas yang tahan seperti jeruk keprok gejalanya bisa tak tampak tetapi tetap merupakan sumber infeksi bagi varietas yang peka.

Gejala khas penyakit virus ini adalah daun-daun tanaman yang berubah menjadi berwarna perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit. Biasanya terjadi pemucatan tulang daun (vein clearing) berupa garis-garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya 2 minggu sampai 2 bulan setelah tertular. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat/ merana, kerdil, daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung keatas. Bunga yang dihasilkan  berlebihan, tetapi tdak dapat berkembang menjadi buah yang masak.

 

Morfologi dan daur penyakit :

Virus mempunyai zarah-zarah berbentuk batang yang lentur atau benang dengan ukuran 10–12 x 2.000 mm. Virus dapat menular secara mekanis  melalui tanaman tali putri dan alat pada waktu melakukan perbanyakan dan pemangkasan. Penularan secara alami di lapang dapat terjadi dengan perantara kutu daun  sebagai vektor yaitu : Toxoptera citricida Kirk.,          T. Aurantii Fonsc., Aphis citricidus Kirk., A. tavaresi Del Garcio,  A. citricola Van der Goot, A. gossypii,      A. spiraecola Patch.,  Ferrisia virgata Ckll. dan Myzus persicae Sulz.

Kutu daun ini sudah dapat menularkan virus jika mengisap tanaman sakit selama 5 detik dengan masa inkubasi 5 detik dan hanya dapat menularkan secara efektif bila 27 ekor kutu daun secara bersama-sama menularkan pada tanaman sehat. Efektivitasnya hanya terjadi dalam waktu singkat. 

 

Faktor yang mempengaruhi penyakit :

Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh varietas, suhu dan populasi serangga penular. Suhu antara 28–36 °C selama 10 hari dapat menekan gejala pada daun.

Tanaman inang lain : Belum diketahui

 

Pengendalian :

a.Kultur teknis

-  Penggunaan bibit sehat

-  Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza

-  Eradikasi terhadap tanaman sakit dan tanaman inang serangga penular, kemudian dibakar.

 

b.Kimiawi

Pengendalian serangga penular dengan insektisida efektif.

 

3.  Busuk Pangkal Batang (Brown rot Gummosis)

Penyebab :

Cendawan Phytophthora spp., diantaranya yang penting adalah a) P. nicotianae B. de Haan var parasitica (Dast). Waterh (dulu : P. parasitica Dast),     b) P. citrophthora (R.E. Sm. & E.H. Sm.) Leonian, (dulu :  Pythiacytic citrophthora R.E. Sm. Et E.H. Sm), dan c) P. palmivora (Butl). Di Indonesia spesies yang utama adalah P. nicotianae var. parasitica.

 

Penyebaran :

Penyakit terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Bali.

 

Gejala :

Penyakit ini umumnya menyerang pada bagian pangkal batang dekat permukaan tanah atau pada bagian sambungan antara batang atas dan bawah bibit jeruk okulasi. Gejala awal tampak berupa bercak basah yang berwarna gelap/hitam kebasah-basahan pada permukaan kulit pangkal batang. Jaringan kulit kayu yang terserang mengalami perubahan warna bahkan permukaan kulit, kambium, kayu, terutama pada serangan lanjut. Kulit batang yang terserang, permukaannya cekung dan mengeluarkan belendok, dan pada tanaman terserang sering terbentuk kalus. Kematian tanaman akibat serangan penyakit ini terjadi apabila bercak pada kulit melingkari batang.

Perkembangan bercak ke bagian atas, umumnya terbatas hingga 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bagian bawah dapat meluas ke bagian akar tanaman.

 

Morfologi dan daur penyakit :

Cendawan P. nicotianae var parasiticia sporangiumnya berbentuk jorong sampai agak bulat, berbentuk buah pir, dengan sporangiofor lebih halus dari pada hifa. Spora mempunyai dua bulu cambuk (flagela), dan patogen dapat membentuk klamidospora bulat, berdinding agak tebal.

P. citrophthora sporangiumnya berbentuk jorong atau berbentuk sitrun, dan terbentuk pada bagian tengah atau ujung sporangiofor. Sporangiofor bercabang tidak teratur. Spora mempunyai 2 bulu cambuk. Patogen juga dapat membentuk klamidospora.

P. palmivora mempunyai sporangium jorong, dan dapat membentuk klamidospora. Cendawan                  P. palmivora dapat bertahan dalam tanah dan membentuk spora kembara. Cendawan ini disebarkan terutama oleh hujan dan air pengairan yang mengalir di atas permukaan tanah.

Penyakit busuk pangkal batang lebih banyak menyerang kebun dengan ketinggian lebih dari          400 m dpl, pada tanah-tanah yang basah, seperti tanah lempung berat yang dapat menahan air lebih lama.

Patogen masuk lewat luka pada pangkal batang (penyebaran oleh oospora melalui luka alamiah, luka karena alat pertanian, atau luka oleh serangga). Infeksi terjadi terutama pada musim hujan dan dibantu oleh pH tanah agak asam (6,0–6,5). Infeksi patogen juga dibantu oleh kabut dan fluktuasi suhu yang kecil yang akan memperlambat penguapan.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :

Penyakit ini lebih banyak menyerang pada ketinggian kebun lebih dari 400 m di atas permukaan laut dan mempunyai temperatur tanah cukup tinggi. Tingkat ketahanan varietas sangat berpengaruh terhadap tingkat serangan patogen ini. Jenis yang peka adalah jeruk manis, jeruk nipis, sitrun Italia, Japanese citroen (JC) dan Rough Lemon (RL) sangat rentan terhadap penyakit ini, sedangkan yang toleran adalah trifoliate orange, jeruk masam, Swingle Ctromelo, Citrange (Corrizo dan Troyer), Sukade, jeruk Keprok, jeruk Manis, Grape Fruit, jeruk besar, jeruk nipis, dan Lemon

Tanah basah, adanya kabut, dan fluktuasi suhu yang kecil, pH tanah yang agak masam yaitu 6,0–6,5 merupakan kondisi yang cocok untuk perkembangan patogen.

Tanaman inang lain :

Kacang tanah, cabai, tapak dara, kenaf, ubi kayu, jarak, terung, sirsak, srikaya, aren, pepaya, kelapa, terung belanda, durian, karet, pala, sirih, lada, kakao, anggrek Vanda dan kemiri minyak.

 

Pengendalian :

a. Kultur teknis

-    Menanam jeruk di atas gundukan-gundukan setingi 20–25 cm, tetapi tanaman jangan dibumbun agar batang atas tidak berhubungan  dengan tanah.

-    Menggunakan benih dengan mata tempel setinggi 35–50 cm dari permukaan tanah, untuk mengurangi kemungkinan batang atas yang rentan terinfeksi cendawan dari tanah.

-    Menghindari air pengairan mengenai/terkena langsung pangkal batang dengan membuat selokan melingkari batang.

-    Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur drainase, jarak tanam, pemangkasan, dan sanitasi lingkungan/kebun.

-    Menghindarkan terjadinya pelukaan terhadap baik akar maupun pangkal batang pada waktu pemeliharaan/penyiangan.

-    Pemupukan

-    Pengamatan pangkal batang jeruk secara teliti dan teratur, terutama pada musim hujan, agar gejala penyakit dapat diketahui secara dini.

-    pH tanah diupayakan lebih dari 6,5, dengan pemberian dolomit (kapur pertanian).

b. Mekanis/fisis

-    Membongkar tanaman (termasuk akarnya) yang terserang berat, kemudian membakarnya.

-    Memotong/membuang bagian tanaman yang sakit, termasuk 1–3 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi fungisida. Untuk mempercepat pemulihan (regenerasi), sebaiknya bagian atas dan bekas luka potongan membentuk titik.

-    Menggunakan multiple foot stock (kaki ganda) dengan teknik aaneting/penyusuan (sambung samping) dengan batang bawah sehat 1 atau beberapa, tergantung besar tanaman yang akan ditolong untuk membantu fungsi akar dan pohon yang rusak.

c.  Biologi

Mengunakan agens antagonis cendawan Trichoderma spp., Gliocladium spp. yang dicampur dengan pupuk kandang/kompos.

d     Genetika/Varietas Tahan

-    Menggunkan batang bawah yang tahan terhadap Phytophthora, seperti “trifoliate orange” atau jeruk masam.

-    Varietas tahan terhadap Phytophthora dan salinitas, yaitu Taiwanica dan Citromello 4475.

e.   Kimia

-  Melumasi pangkal batang dan akar-akar yang tampak dari luar dengan ter (Carbolineum plantarum 50 %) sampai setinggi 50 cm. Perlakuan tersebut dimulai tahun ketiga setelah penanaman dan setiap awal musim hujan (untuk Jawa September atau setiap 6 bulan. Agar batang yang berwarna hitam tidak banyak menyerap panas sehingga kulitnya rusak (untuk mencegah infeksi setelah diberi ter), maka bagian yang diberi ter ditutup dengan larutan kapur yang ditambah dengan garam dapur (25 kg kapur mati, 2 kg garam dapur, dan 25–35 liter air.

-   Mengoles luka (bekas tanaman yang terinfeksi yang dibuang) dengan bubur California, bubur Bordo (Lampiran 3), Carbolineum-parafin          (8 : 92), Mankozeb, atau tembaga oksiklorida. Kemudian  luka ditutup dengan obat penutup luka, seperti ter, setelah kulit mengalami regenerasi.

-   Membersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

4.  Penyakit Kulit Diplodia (Bark rot/Diplodia Cummosis)

Penyebab :

Cendawan Botryodiplodia theobromae Pat. (Oomycetes); yang dulu dikenal dengan nama Diplodia zae Lev.; Diplodia natalensis P.Evans.

 

Penyebaran :

Di Indonesia penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Di luar negeri penyakit terdapat di Amerika Serikat, Kuba, India, Malaysia, dan Thailand.

 

Gejala :

Pada jeruk dikenal dua macam Diplodia yaitu Diplodia “basah” dan Diplodia “kering”. Penyakit ini dapat menyerang akar, batang dan ranting dan dapat mengakibatkan busuk akar, busuk leher dan mati ranting.

Serangan Diplodia basah mudah dikenal karena tanaman yang terserang mengeluarkan “blendok” yang berwarna kuning emas dari batang atau cabang-cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang setelah beberapa lama dapat sembuh kembali, kulit yang terserang mengering dan mengelupas. Sering terjadi penyakit berkembang terus, sehingga pada kulit terjadi luka-luka yang tidak teratur, kadang-kadang terbatas pada jalur yang sempit, memanjang dan dapat juga berkembang melingkari batang atau cabang yang dapat menyebabkan kematian cabang atau tanaman. Cendawan berkembang di antara kulit dan kayu, dan merusak lapisan kambium tanaman. Kayu yang telah mati berwarna hijau sampai hitam.

Serangan Diplodia kering umumnya lebih berbahaya karena gejala permulaan sukar diketahui. Kulit batang atau cabang tanaman yang terserang mengering, terdapat celah-celah kecil pada permukaan kulit, dan pada bagian kulit dan batang yang ada di bawahnya berwarna hitam kehijauan. Pada bagian celah-celah kulit terlihat adanya massa spora cendawan berwarna putih atau hitam. Perluasan kulit yang mengering sangat cepat dan bila sampai menggelang tanaman, menyebabkan daun-daun tanaman menguning dan kematian cabang atau pohon.

 

Morfologi dan daur penyakit :

Cendawan dapat membentuk piknidium yang tersebar, berwarna hitam, mula-mula tertutup dan kemudian pecah. Konidium berbentuk jorong, mempunyai 1 sekat, berwarna gelap, dan terutama disebarkan oleh air dan serangga.

Penyakit diplodia banyak terdapat di dataran rendah dan tempat-tempat dengan kelembaban tinggi Infeksi dan perkembangan penyakit terjadi pada awal musim hujan (antara bulan Oktober – Nopember). Patogen masuk lewat luka  : alamiah, alat-alat pertanian, retak karena beban buah terlalu berat.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Perkembangan dan tingkat serangan penyakit dipengaruhi oleh jenis dan umur tanaman. Jenis jeruk besar seperti jeruk Delima, Pandawangi, dan Bali  peka terhadap Diplodia basah dan diplodia kering Bertambahnya umur tanaman pada jenis jeruk tertentu akan meningkat pula ketahannya tetapi pada jenis lain bisa menurun ketahanannya. Jeruk  Pandanwangi peka pada umur 4 tahun, tetapi semakin tahan dengan bertambahnya umur tanaman, sedangkan jeruk Delima agak peka pada usia muda, tetapi makin peka dengan bertambahnya umur tanaman.

Kekeringan yang terjadi secara tiba-tiba, pembuahan yang terlalu lebat, dan adanya pelukaan pada tanaman merupakan kondisi yang baik untuk perkembangan patogen.

 

Tanaman inang lain :

Cendawan ini bersifat polifag yang dapat menyerang beberapa macam jenis tanaman.

 

Pengendalian :

a.  Kultur teknis

-   Sanitasi tanaman. Potong pohon/cabang/ranting yang terserang berat, buang kulit yang terinfeksi sedang dan bersihkan kulit yang terinfeksi ringan serta lingkungan dari gulma.

-    Mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur jarak tanam dan melakukan pemangkasan.

-    Penjarangan buah, agar keadaan tanaman tidak terlalu berat, sehingga cabang/ranting tidak luka/retak.

-    Menghindari pelukaan terhadap akar maupun batang pada waktu penyiangan.

-    Perlakuan pembersihan dengan menggosok batang tanaman, agar batang semakin halus.

-    Pemupukan berimbang, terutama setelah panen.

-    Drainase. Menjaga agar pengairan tetap baik.

b. Mekanis/fisis

-    Memotong/membuang bagian bagian kulit batang tanaman yang sakit, termasuk 1–2 cm bagian kulit sekitarnya yang sehat, kemudian diolesi dengan bahan penutup luka (karbolineum parafin, fungisida atau ter.

-    Mengumpulkan sisa-sisa tanamn dan memotong cabang-cabang yang terserang penyakit berat, kemudia dibakar.

-    Membongkar tanaman yang terserang berat dan dibakar.

c.  Biologi

Mengunakan agens antagonis Trichoderma spp., Gliocladium spp., Pseudomonas fluorescens dan dilanjutkan dengan Bacillus subtilis yang telah dicampur dengan pupuk kandang/kompos, setelah kulit dikupas.

e    Genetika/Varietas Tahan

Varietas tahan belum ada. Varietas yang agak tahan (agak toleran) adalah Pandanwangi (cikoneng), jeruk manis, dan jeruk grape fruit.

f       Kimia

-   Mengoleskan bubur California atau fungisida yang efektif berbahan aktif metil tiofanat dan siprokonazol pada bagian kulit batang/ranting tanaman yang sakit setelah dibersihkan lebih dulu, dan untuk pencegahan di daerah kronis endemis.

-   Membersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misal dengan pemutih (klorok).

5.   Penyakit Antraknosa

Penyebab :

Cendawan Colletotrichum gloeosporioides Penz., dengan bentuk sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Cendawan penyebab lainnya adalah Gloeosporium limetticolum Clausen.

 

Penyebaran :

Penyakit ini dikenal di semua negara penanam jeruk. Di Indonesia penyaki ini tersebar di Jawa, Bali, Kalimantan Barat, dan NTB.

 

Gejala :

Ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik-bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok.

Gejala antraknosa pada buah adalah adanya bercak/bintik-bintik coklat kemerahan atau coklat hitam, berbentuk bulat pada permukaan kulit buah, lama-lama menjadi cekung, mengeras dan kering.

 

Morfologi dan daur penyakit :

Aservulus dangkal, seta bersekat 1–2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit :

Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah.

 

Tanaman inang lain :

Bawang-bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp (ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda.

 

Pengendalian :

a. Kultur teknis

-   Penggunan bibit yang bukan berasal dari cangkokan.

-  Menjaga agar tanaman pada kondisi optimum dengan memperbaiki kondisi tanah (drainase dan kesuburan tanah yang baik).

-   Sanitasi terhadap bagian atau sisa-sisa tanaman yang dapat menjadi sumber infeksi, kemudian dibakar.

b. Kimiawi

Penggunaan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran.

hama dan pengendaliannya

Kutu Sisik/Kutu Perisai (Lepidosaphes beckii ; Uniaspis citri)

Ordo    :  Homptera

Famili  :  Diaspididae


Penyebaran :

Di Indonesia kutu ini terdapat di Sumatera dan Jawa. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Amerika.

 

Gejala :

Bagian tanaman jeruk yang diserang oleh kutu ini adalah daun, buah dan tangkai. Kutu-kutu tersebut menyukai tempat-tempat yang terlindung, terutama banyak dijumpai di bawah permukaan daun disepanjang tulang daun. Daun jeruk yang terserang akan mengakibatkan daun-daun berwarna kuning, terdapat bercak-bercak khlorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering, serta terjadi retakan-retakan pada kulit. Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena penampakannya yang kotor, tetapi apabila buah yang kotor itu dibersihkan akan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah. Lepidosephes beckii menyukai tajuk pohon yang padat, dan serangan yang berat biasanya terjadi pada bagian tengah tajuk pohon. Uniaspis citri banyak menyerang tanaman jeruk jenis Citrus nobius.

 

Biologi :

Lepidosaphes beckii. Imagonya berwarna ungu atau coklat gelap, mempunyai bentuk yang bervariasi yaitu panjang, melingkar dan koma. Telur diletakkan secara berkelompok sebanyak 40–80 butir di sekitar tubuhnya. Pada musim kemarau telur-telur tersebut akan menetas selama 15–20 hari sedangkan pada musim hujan waktu penetasan akan lebih panjang lagi. Kutu betina mengalami 12 kali pergantian kulit sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan mengalami 3 kali pergantian kulit.

Uniaspis citri. Telur diletakkan oleh serangga betina secara terpisah, peletakan telur kedua tidak akan berlangsung apabila telur pertama belum menetas. Kutu dewasa berbentuk oblong. Serangga betina berwarna coklat dengan pinggiran berwarna abu-abu. Panjang kutu betina 1,5–2,25 mm. Serangga jantan berwarna putih. Spesies ini mengeluarkan sekresi toksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada pertanaman jeruk dan gugurnya daun. Kutu betina mengalami 2 kali pergantian kulit sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan mengalami 3 kali pergantian kulit.

 

Tehnik pengambilan contoh dan penentuan saat aplikasi :

Pengamatan dilakukan pada permukaan daun/buah pada 4 kuadran, masing-masing 5 tanaman jeruk. Saat penentuan aplikasi bila skoring menunjukkan 10 % daun/buah terinfeksi.

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Tanaman muda di pembibitan dan juga pada cabang/ranting tanaman jeruk yang masih muda. Hama L. beckii menyukai bagian tengah tajuk pohon yang padat.

Pengendalian :

a. Biologi

Musuh alami kutu sisik adalah parasit Aphytis lepidosaphes, Aspidiotiphagus citrinus, dan cendawan Fusarium coccophilum.  Musuh alami ini sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan.

b. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif sehingga musuh alami tidak ikut musnah.

 

5.  Ulat Penggerek Bunga dan Puru Buah (Prays  spp.)

Ordo           :  Lepidoptera

Famili :  Yponomeutidae

 

Penyebaran :

-   Prays endocarpa Meyr. di Indonesia terdapat di Sumatera dan Jawa. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia.

-    Prays citri Mill. tersebar dari Eropa Tenggara sampai dengan Asia Tenggara. 

 

Gejala :

Prays citri terutama menyerang kuncup bunga jeruk manis atau jeruk besar yang belum mekar sehingga apabila buah berkembang, akan meninggalkan bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3 – 0,5 cm. Bunga-bunga yang terserang parah mudah rontok atau gugur. Infeksi sekunder sering terjadi melalui luka, menyebabkan buah muda gugur sebelum tua.

Prays endocarpa menyerang buah-buah muda dan meninggalkan bekas berupa puru-puru. Seiring dengan perkembangan buah, pada pupur-puru tersebut terjadi lubang, menyebabkan buah berkualitas rendah. Buah-buah yang banyak diserang oleh dua ulat ini terutama dari jenis jeruk yang berkulit tebal seperti jeruk besar, jeruk manis, jeruk sitroen, dan grapefruit.

 

Biologi :

Kedua serangga ini mempunyai 4 stadium hidup yaitu telur, larva, pupa/kepompong dan dewasa.

Prays citri mempunyai telur dengan ukuran     0,1–0,2 mm, berwarna transparan, kuning muda atau kuning tua sesuai dengan umurnya. Telur-telur ini diletakkan oleh induk betina pada malam hari secara terpisah pada kuncup bunga dan kadang-kadang pada buah muda.

Larva yang baru menetas berupa ulat masuk ke dalam bunga dan menggerek bunga dari bagian dalam. Kadang-kadang ulat juga masuk ke dalam kulit buah dan tetap tinggal dalam endokarpa sampai stadium pupa. Ulat berwarna hijau muda dengan kepala coklat, panjang 5 mm. Stadium ulat berlangsung 3 minggu.

Pupa berwarna coklat, berukuran 5 – 5,5 mm, berada dalam bunga, kulit buah atau bagian-bagian tanaman yang tersembunyi. Stadium dewasa berupa kupu dan stadium ini keluar dari pupa dengan meninggalkan bekas lubang pada puru-puru di bagian tanaman tempat pupa tinggal.

Prays endocarpa mempunyai telur yang datar, berwarna hijau transparan, dengan diameter 0,4 mm. Telur-telur diletakkan secara berserakan di bagian kulit buah muda pada malam hari. telur menetas 4 hari kemudian dan larva yang keluar berwarna hijau, kemudian nampak garis-garis melintang berwarna merah pada tubuh larva, ukuran panjang larva sampai dengan 5–7 mm. Ulat atau larva menggerek kulit buah jeruk serta hidup di dalamnya.

Kepompong berwarna merah abu-abu, panjang  4,5–5,5 mm. Pupa dapat ditemukan pada buah, atau lebih sering ditemukan pada ranting atau tepi daun. Siklus hidup dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa berlangsung 29 hari.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman jeruk mulai berbunga, larva akan masuk ke dalam kuncup-kuncup bunga atau pada kulit buah-buah muda dan hidup di dalamnya.

 

Teknik pengambilan contoh dan penentuan saat aplikasi :

Pengamatan dilakukan pada bunga yang belum mekar sebanyak 50 bunga per tanaman yang diambil secara acak pada 10 % populasi tanaman. Ambang ekonominya adalah 50 % bunga terinfeksi atau 2–3 % buah terinfeksi.

 

Pengendalian :

        a.  Mekanis/Fisis

Membungkus buah-buah selagi masih kecil dapat mencegah kerusakan. Buah dibungkus dengan kain atau pembungkus lainnya yang tidak rusak oleh hujan. Pembungkusan buah yang sudah agak besar mungkin sudah terlambat karena penularan sudah terjadi.

     Buah-buah yang sudah terserang sebaiknya dipetik untuk dibenamkan ke dalam tanah. ulat-ulat dalam kulit buah akan terbunuh.

 

b. Biologi

Mengembangkan musuh alami dari hama ini yakni tabuhan parasit Ageniaspis sp. (Chalcidoidea : Encyrtidae) dan Enderus malayensis Ferr. (Chalcidoidea : Eulophidae) untuk menekan perkembangan populasi Prays spp. Terutama di daerah yang lembab dan teduh.

 

c. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi pada saat ulat-ulat sudah berada di dalam kulit buah, tidak akan berhasil. Penyemprotan buah harus dilakukan pada saat telur belum menetas, sehingga ulat yang keluar dari telur akan segera terbunuh sebelum menggerek.

 

8. Trips (Scirtothrips citri) (Moulton)

Ordo            :  Thysanopetra

Famili          :  Thripidae

 

Penyebaran :

Hama ini berasal dari Sri Lanka, namun sekarang telah menyebar luas ke Indonesia (Jawa) dan Australia.

 

Gejala :

Kerusakan tanaman disebabkan oleh nimfa dan imago trips. Serangan trips pada tangkai dan daun muda mengakibatkan helai daun menebal, kedua sisi tepi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Daun pada ujung tunas menjadi hitam, kering kemudian gugur. Serangan pada buah terjadi ketika buah masih sangat muda, dengan meninggalkan bekas luka berwarna coklat keabu-abuan yang kadang-kadang disertai garis nekrotis di sekeliling luka. Bekas luka ini tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai.

 

Biologi :

Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.

Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.

Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung, biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman.

Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9 mm, trips jantan lebih pendek.

Dalam satu tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau, perkembangan telur sampai dewasa   13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Tangkai dan daun muda serta buah-buah muda merupakan sasaran dari hama ini. bila suhu di sekitar pertanaman meningkat, maka perkembangan populasi tungau semakin cepat.

 

Pengendalian :

   a. Kultur teknis

   - Menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga cahaya matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk.

    -  Hindarkan penggunaan mulsa jerami yang dapat digunakan oleh trips untuk meletakkan telur.

 

b. Kimiawi

Penggunaan insektisida yang efektif, dilakukan terutama pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim kemarau cukup efektif mengendalikan populasi trips.

 

9.  Kutu Dompolan (Planococcus citri Risso)

Ordo    :  Hemiptera

Famili  :  Pseudococcidae

 

Penyebaran :

Tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, banyak dijumpai di rumah kaca serta menyukai berbagai tanaman.

 

Gejala serangan :

Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas.

 

Biologi :

Kutu dewasa berbentuk oval, datar, berwarna kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, panjang 3–4 mm, lebar 1,5–2 mm. Tubuh serangga ditutupi lapisan lilin. Di sepanjang tepi badan kutu terdapat duri-duri dari bahan semacam lilin sebanyak   14–18 pasang dan duri pada bagian pangkal panjangnya dua kali dari panjang duri lainnya.

Telur berwarna kuning dan diletakkan di dalam kantong yang terbuat dari bahan menyerupai benang-benang lilin halus yang berada di belakang tubuh kutu betina. Ukuran kantong-kantong ini kadang-kadang lebih besar dari ukuran kutu betina. Seekor kutu betina mampu bertelur 300 butir, telur diletakkan pada bagian tanaman dan berlangsung antara 2–17 hari.

Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda atau kuning pucat, atau merah tua tergantung stadiumnya, bergerak meninggalkan induknya dan mencari tempat di bagian tanaman lain. Perkembangan nimfa jantan telah sempurna ditandai dengan adanya sekresi puparium yang berlilin di akhir instar kedua P. citri betina mengeluarkan sex-feromon yang khas yang dapat menarik kutu jantan pada jarak dekat.

Populasi kutu dompolan meningkat selama musim kemarau, terutama bila kelembaban nisbi pada siang hari di bawah 75 %. Ledakan populasi akan terjadi bila kelembaban nisbi turun di bawah 70 % dan berlangsung terus menerus selama 3–4 bulan, dan hari hujan di bawah 10 hari. penyebaran kutu dibantu oleh angin, hujan dan semut gramang.

Kutu ini memproduksi embun madu yang sangat disukai oleh semut. Bila produksi embun madu berlebihan biasanya timbul jamur jelaga pada daun, tangkai atau buah sehingga pertumbuhan bagian-bagian tersebut tidak normal dan kualitas buah turun. Kutu ini menyukai tempat yang agak teduh tetapi tidak terlalu lembab.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

P. citri sangat menyukai buah jeruk yang masih muda dan dapat pula menyerang pucuk-pucuk. Populasi akan meningkat di musim kemarau dan akan menurun pada musim hujan. Pada musim hujan cendawan Entomophthora fresenii akan menyebabkan kutu-kutu ini mati.

 

Tanaman inang lain :

Kopi, pupuk hijau seperti Desmodium sp., Tephrosia sp., Indigo sp., lamtoro (Leucaena glauca), Castilloa, Loranthus dan beberapa gulma.

Teknik pengambilan contoh dan penentuan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 20 % populasi tanaman. Bagian tanaman yang diamati adalah buah, sebanyak 10 buah per tanaman yang dilakukan secara acak. Ambang ekonominya adalah bila 5 % buah terinfeksi.

 

Pengendalian

     a.    Kultur teknis

Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar tidak terlalu padat dan saling menaungi.

     b.    Mekanis/Fisis

Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu

     c.    Biologi

Memanfaatkan keberadaan musuh alami predator dari famili Coccinellidae seperti Scymnus apiciflavus,  S. roepkei, Brumus saturalis, Coccinella repanda, dari famili Cecidomyidae seperti Coccodiplosis smithi dan  parasit dari famili Encyrtidae seperti Anagrus greeni dan Leptimastix trilongifasciatus.

      d.   Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dengan insektisida yang efektif.

 

6.  Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella Moore)

Ordo    :  Lepidoptera

Famili  :  Pryalidae

 

Penyebaran :

Di Indonesia hama ini terdapat di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia.

 

Gejala :

Ulat menggerek buah sampai ke daging buah, sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok, kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila serangan parah buah akan busuk dan gugur.

Buah yang peka terhadap serangan hama ini adalah buah yang berumur 2–5 bulan dari jenis jeruk besar, ponderosa, manis, ktes, satsuma, naval orange dan grapefruit. Jenis keprok dan siam relatif tidak disukai.

 

Biologi :

Serangga betina meletakkan telur secara berkelompok, tersusun seperti genting pada separuh bagian bawah kulit buah. Telur menetas dalam 5–7 hari. ulat yang baru menetas berwarna kuning kemerahan, dengan panjang 2 mm.

Ulat ini segera menggerek ke dalam kulit buah jeruk secara berdekatan. Bahan gerek serta kotoran ulat keluar dari lubang dan melekat pada kulit luar. Dari liang gerek keluar cairan kental. Pada instar berikutnya, ulat-ulat tersebut masing-masing menggerek ke dalam daging buah. Apabila ulat cukup banyak, maka seluruh isi buah membusuk. Menjelang masa kepompong ulat berubah menjadi hijau dengan panjang 16 mm. Stadium ulat/larva 13–21 hari. ulat yang akan berkepompong keluar dari buah. Dengan menggantungkan diri pada benang sutera yang dihasilkannya, ulat ini turun ke bawah, masuk ke  dalam tanah pada kedalaman 1–2 cm untuk berkepompong.

Kepompong berwarna merah kecoklatan dengan panjang tubuh 14 mm. Setelah 10–11 hari, ngengat yang berwarna abu-abu keluar dari kepompong. Panjang tubuh ngengat betina 10–11 mm, sedangkan ngengat jantan 10 mm. Ngengat aktif pada malam hari tetapi tidak tertarik pada cahaya. Siklus hidup dari telur sampai menjadi kupu-kupu berlangsung antara 29–39 hari.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman berbuah, buah-buah yang berumur 2 bulan dengan ukuran diameter 5–6 cm. Serangan masih berlanjut sampai buah berumur 3 bulan dan menjelang masak.

 

Teknik pengambilan contoh dan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 4 kuadran. Masing-masing kuadran diambil contoh buah sebanyak 10 buah. Saat penentuan aplikasi dilakukan bila 5% buah terinfeksi.

Tanaman inang lain : Belum diketahui.

 

Pengendalian :

a. Mekanis/Fisis

    -  Untuk mencegah peletakkan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda.

   -  Memetik buah jeruk yang telah terserang, dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam (30 cm).

   

    b. Biologi

Pemanfaatan musuh alami. Parasit telur Trichogramma nana  dan Bracon sp. dengan parasitisme masing-masing 16 persen dan 11 persen.

 

c. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan pada saat telur belum menetas. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. Penggunaan insektisida yang efektif yang disemprotkan pada saat buah berumur 2–5 bulan cukup efektif menekan timbulnya kerusakan karena Citripestis.

 

7.   Tungau Merah (Brevipalpus spp., Aceria sheldoni, Tetranychus sp.)

Ordo           :  Acarina

Famili         :  Tetranichidae

 

Penyebaran :

Terdapat di seluruh Indonesia dan juga di negara-negara tropika dan subtropika lainnya.

 

Gejala :

Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan yang mendadak dan tidak diharapkan. Tungau menyerang tangkai, daun dan buah. Tangkai yang terserang akan berwarna seperti perunggu, pada permukaan atas daun terdapat titik berwarna kuning atau cokelat.

Serangan pada permukaan bawah daun menyebabkan mesofil rusak sehingga transpirasi tanaman meningkat. Akibatnya banyak daun yang gugur pada musim kemarau. Serangan pada buah mengakibatkan permukaan buah ber-bercak-bercak kecil, kesegaran dan ukuran buah berkurang, serta buah yang gugur meningkat.

Gejala khas kerusakan kulit buah berbeda untuk setiap jenis jeruk dan tingkat kemasaman buah. Pada grapefruit, lemon dan jeruk nipis, serangan pada awal perkembangan buah menyebabkan warna keperak-perakan pada kulit dan apabila serangan lebih parah mengakibatkan kulit buah bersisik. Pada jeruk manis, serangan pada fase perkembangan buah mengakibatkan timbulnya retakan-retakan coklat pada permukaan kulit, sedangkan pada fase pemasakan buah, kerusakan pada kulit ini menyerupai russeting.

 

Biologi :

          Brevipalpus (= Tenuipalpus) spp.

Tungau Brevipalpus (= Tenuipalpus) spp.. betina bertelur 4 butir, stadium telur berlangsung 4 hari. Tungau berbiak terutama pada musim panas, sedangkan pada musim hujan bersembunyi di tempat-tempat terlindung yaitu di ketiak-ketiak ranting atau dalam sela-sela kulit ranting yang lebih tua. Brevipalpus sebenarnya kurang menimbulkan kerusakan pada buah karena serangan berat biasanya terjadi pada ranting dan daun jeruk.

Tungau betina berbentuk oval, berwarna kemerah-merahan dan berukuran 0,25 x 1,12 mm. Tungau jantan berbentuk segitiga dan lebih kecil ukurannya dari betina. Tungau betina berkembang biak secara tunggal atau dalam kelompok pada permukaan bawah daun di sekitar ibu tulang daun atau di celah-celah kulit ranting atau cabang. Perkembangbiakan tungau ini relatif lambat. Satu siklus generasi sekitar 6 minggu.

 

          Aceria (= Eriophyes) sheldoni (Ewing)

Tungau Aceria (= Eriophyes) sheldoni (Ewing) dewasa, berbentuk memanjang, berwarna kuning terang sampai kuning seperti jerami, berukuran 0,1 mm. Tungau mengalami pergantian kulit 2 kali sebelum menjadi dewasa. Setiap stadium berlangsung 1–3 hari, berbentuk seperti tungau dewasa hanya ukurannya yang lebih kecil.

Tungau dewasa mulai bertelur sejak berumur   1–2 hari dan terus berlangsung selama hidupnya yang lebih kurang 20 hari dengan jumlah telur 1–2 butir setiap hari atau 20–40 butir sepanjang masa hidupnya. Telur diletakkan per butir atau berkelompok di permukaan daun, buah atau tangkai. Telur berwarna kuning jernih atau transparan, berukuran lebih kurang ¼ panjang tungau dewasa.

Siklus hidup dari telur sampai menghasilkan telur lagi berlangsung 7–10 hari pada musim kemarau, kadang-kadang 14 hari pada musim hujan atau bisa lebih lama tergantung dari suhu lingkungan. Serangan dapat terjadi di musim kemarau dan musim hujan; tungau ini tidak menyukai cahaya. Oleh karena itu, kerusakan biasanya terjadi pada buah-buah yang ternaungi. Jeruk jenis lemon dan grapefruit merupakan tanaman inang yang disukai.

         Tetranychus  sp.

Satu ekor betina Tetranychus  sp. dapat memproduksi 17–37 butir telur, yang berlangsung 12 hari untuk betina dan 11 hari untuk jantan pada kelembaban 50–70%. Telur berbentuk bulat berwarna merah, biasanya diletakkan pada daun dan tangkai daun muda yang sukulen. Telur biasanya diletakkan pada permukaan atas sepanjang ibu tulang daun dan pada petiole.

Lama hidup tungau dewasa berlangsung selama 23 hari, dalam kondisi kelembaban rendah populasinya dapat meningkat 8,5 kali dalam 10 hari. serangan Tetranychus dimulai dari tunas atau daun-daun muda kemudian bergerak ke buah-buah muda. Tungau ini kurang menyukai keadaan ternaung dan selalu bergerak ke arah datangnya cahaya tetapi menghindar dari datangnya cahaya langsung. Perilaku ini yang menyebabkan serangan paling parah terjadi pada permukaan buah yang menghadap ke arah datangnya cahaya.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populsi :

Ranting, tangkai daun, daun dan buah-buah muda merupakan sasaran dari tungau ini. Brevipalpus menyukai ranting dan daun jeruk, Aceria menyukai buah-buah yang ternaungi, sedangkan Tetranychus menyukai tunas dan buah-buah muda yang menghadap ke arah datangnya cahaya.

 

Tehnik pengambilan contoh dan penentuan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 10% dari populasi tanaman. Bagian tanaman yang diminati adalah tunas-tunas muda dan buah. Tiap tanaman diamati 4 tunas vegetatif aktif dan buah sebanyak 20 buah. Penentuan saat aplikasi untuk Aceria  dilakukan apabila ditemukan 30 % kuncup terinfeksi, sedangkan untuk Tetranychus apabila ditemukan 10 % tunas terinfeksi dan 2 % buah terinfeksi.

 

Tanaman inang lain :

Tetranychus spp.           bersifat polifagus, menyukai kapas, kacang-kacangan, jeruk, tanaman hias dan gulma terutama golongan dikotiledon.

Brevipalpus  spp.           bersifat polifagus, menyukai tanaman perdu, pohon-pohon besar, tanaman hias seperti Hibiscus, Buddleya, ubi jalar, teh.

 

Pengendalian :

        a.  Biologi

Pemanfaatan musuh alami parasitoid Tetranychus  spp., predator Phytoseiulus persimilis (Ath. Henr),          P. macropilis (Banks), Stethorus spp. (Coccinelidae), Coccinella repanda

   b. Kimiawi 

Penyemprotan dengan insektisida propargit pada awal peningkatan populasi efektif menekan populasi tungau
Lalat Buah (Bactrocera  spp.)

Ordo    :  Diptera

Famili  :  Tephritidae

Penyebaran :

Lalat buah Dacus spp. banyak ditemukan di daerah Asia-Pasifik. Lalat buah yang banyak terdapat di Indonesia adalah Bactrocera spp. Spesies lalat buah di Asia Tenggara yang mempunyai arti penting secara ekonomi adalah B. dorsalis complex

Gejala :

Sifat khas lalat buah  adalah meletakkan telurnya di dalam buah. Tempat peletakkan telur ditandai dengan adanya noda/titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor ini merupakan gejala awal serangan lalat buah. Telur menetas menjadi larva (belatung).

Larva hidup di dalam buah dan merusak daging buah, sehingga menyebabkan buah menjadi busuk, biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengahnya, kemudian gugur sebelum masak (sering disebut buah berulat). Apabila dibelah, pada daging buah terdapat belatung kecil-kecil dengan ukuran panjang 1 cm, dan biasanya meloncat apabila tersentuh.

Buah yang gugur, apabila tidak segera dikumpulkan dan dimusnahkan, akan menjadi sumber infeksi atau perkembangan lalat buah generasi selanjutnya.

Biologi :

Lalat buah mempunyai empat stadium metamorfosis, yaitu telur, larva, pupa, dan imago (serangga dewasa).

Telur lalat buah berbentuk bulat panjang, berwarna putih, dan diletakkan berkelompok 2–15 butir pada buah-buah yang agak tersembunyi atau tidak terkena sinar matahari langsung, serta pada buah yang agak lunak dan permukaannya agak kasar. Seekor lalat buah betina dapat meletakkan telur 1–40 butir/hari, dengan jumlah 1.200 -1.500 butir. Telur akan menetas menjadi larva 2 hari setelah diletakkan di dalam buah.

Bentuk dan ukuran larva famili Tephritidae umumnya bervariasi, tergantung dari spesies dan ketersediaan zat gizi esensial dalam media makanannya. Larva berwarna putih keruh atau putih kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva hidup berkembang dalam daging buah selama 6–9 hari, menyebabkan buah menjadi busuk. Apabila larva sudah dewasa, kemudian akan keluar dari buah, dan biasanya larva jatuh (melenting) ke tanah sebelum berubah menjadi pupa (kepompong).

Larva masuk ke dalam tanah dan memasuki stadium pupa tepat di bawah permukaan tanah. Pupa berwarna kecoklatan, berbentuk oval dengan bentuk panjang  ± 5 mm. Lama stadia pupa 4–10 hari dan ke luar serangga dewasa (imago) lalat buah.

Imago berwarna merah kecoklatan, abdomen umumnya terdapat 2 pita melintang dan satu pita membujur berwarna hitam atau bentuk T yang kadang-kadang tidak jelas. Ujung abdomen lalat betina lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah, sedangkan pada lalat jantan abdomennya lebih bulat. Siklus hidup dari telur sampai lalat dewasa di daerah tropis berlangsung  ±  25 hari.

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman mulai memproduksi buah, terutama pada saat buah menjelang masak.

Tehnik pengambilan contoh dan saat penentuan aplikasi :

Metode yang digunakan merupakan metode untuk lalat buah Ceratitis capitata. Namun kemungkinan dapat dipergunakan untuk pengendalian Bactrocera. Pada    1 hektar tanaman dipasang 10 perangkap methyl eugenol (ME). Ambang ekonominya adalah 20 serangga dewasa per trap per minggu. 

Tanaman inang lain :

Cabai, mangga, pisang, belimbing, kopi, buah cengkeh.

Pengendalian :

a. Peraturan (Karantina)

Pencegahan terhadap serangan lalat buah

Penerapan  peraturan karantina yang ketat dapat mencegah masuknya lalat buah dari wilayah atau negara yang diketahui mempunyai masalah lalat.

b. Kultur teknis

- Penggunaan tanaman perangkap dapat didasarkan pada peringkat tanaman yang disukai lalat buah yaitu jambu air, belimbing, mangga, jambu biji, dan cabe besar. Tanaman yang memiliki nilai ekonomis rendah dapat dijadikan tanaman perangkap. Pengalaman di Bali dan Jawa Timur selasih juga dapat dijadikan pohon perangkap. Lalat buah akan berkumpul di sekitar pohon selasih, lalu dijaring.

-  Sanitasi kebun bertujuan untuk memutus-daur hidup lalat buah, sehingga perkembangan lalat buah dapat ditekan. Buah yang jatuh dikumpulkan kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dikubur.

c. Mekanis/Fisis

- Pengerodongan buah

Keuntungan  dari cara ini adalah buah terhindar dari serangan, mulus, bersih tanpa pencemaran bahan kimia, tetapi untuk areal yang luas tidak praktis.

-  Pengasapan

Tujuan dari pengasapan adalah untuk mengusir lalat buah  yang datang ke pertanaman. Pengasapan dilakukan dengan cara membakar serasah/jerami.  Pengasapan dapat mengusir lalat buah dan efektif slama 3 hari, bila asap hilang lalat akan kembali. Pengasapan terus menerus

selama 13 jam diinformasikan dapat membunuh lalat buah.

-  Penggunaan perangkap dan attraktan

Perangkap yang terbuat dari plastik  atau   botol air mineral yang sudah dipasang attraktan              (methyl eugenol, cue lure, med-lure, protein hidrolisa, ekstrak daun selasih daun melaleuca). Atraktan dapat dicampur dengan pestisida dan diteteskan pada kapas. Perangkap dipasang pada ranting atau cabang pohon setinggi 2–3 meter dari permukaan tanah. Pemasangan + 16 buah/Ha secara terus menerus dalam areal yang luas.

a.  Biologi

Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan musuh alami berupa  parasitoit seperti Biosteres sp. dan Opius sp. (famili Braconidae) dan musuh alami berupa predator yang umum adalah semut, laba-laba, kumbang stafilinid dan cocopet dapat menekan populasi lalat buah.

b.    Kimiawi

Penggunaan pestisida dapat dilakukan  dengan cara penyemprotan, pengabutan, pencelupan dan pencampuran dengan atraktan. Cara pencampuran pestisida dengan atraktan, baik sex atraktan  maupun food atraktan adalah paling mudah dan efektif.   

f. Teknik jantan mandul

Prinsip kerja Teknik Jantan Mandul dalam mengendalikan lalat buah adalah, melepas lalat buah  mandul di kebun agar bersaing kawin dengan lalat normal. Lalat betina yang kawin dengan jantan mandul tidak akan menghasilkan keturunan. Makin banyak jantan mandul yang dilepas makin cepat penurunan populasi.

g. Perlakuan pasca panen

Pengendalian pasca panen biasa dilakukan dengan perlakuan uap/udara panas (heat treatment),   udara dingin (cold treatment), dan fumigasi  

 

  Kutu Penghisap Daun (Helopeltis antonii Sign)

Ordo    :  Hemiptera

Famili  :  Miridae

Penyebaran :

Tersebar luas di Indonesia. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia dan di negara-negara lainnya.

Gejala :

Hama ini terutama menyerang batang, petiola, daun muda, dan pucuk. Tampak bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas-tunas muda atau buah muda yang terserang.

Pada buah, bercak ini biasanya disertai dengan mengalirnya cairan buah yang kemudian kering membentuk semacam blendok yang akhirnya menjadi bercak nekrotis. Bercak bisa terjadi secara tunggal, namun apabila serangan berat biasanya bercak-bercak tersebut bersatu sehingga perkembangan tunas terganggu, kadang-kadang tunas menjadi kering.

Biologi :

Hama betina H. antonii meletakkan telur pada bagian tanaman yang masih muda, biasanya pada tunas-tunas yang masih sangat muda terutama pada bagian urat dan tangkai daun. Telur berbentuk seperti pisang yang salah satu ujungnya berbulu, berwarna putih, panjang 1,5 mm.

Nimfa berwarna kuning atau coklat kemerahan, pada punggungnya terdapat semacam duri pendek yang ujungnya tumpul dan memproduksi aroma seperti terpentin. Nimfa menjadi dewasa setelah 5 kali berganti kulit. Nimfa aktif pada pagi dan sore hari. Helopeltis dewasa berwarna coklat tua kadang-kadang merah kecoklatan, dengan bercak putih di bagian perut. Panjang Helopeltis betina 7–8 mm, jantan 6–7 mm. Siklus hidup berlangsung selama 3 minggu atau 1 bulan di daerah dataran tinggi.

Fase kritis tanaman :

Hama ini menyukai tunas muda, atau buah muda. Faktor iklim yang hangat dan lembab mendukung peningkatan populasi.

Tanaman inang lainnya :

Kayu manis, kina, jambu bol, akasia, jambu mete, cabai rawit, Melastoma, Datura dan beberapa jenis gulma.

Pengendalian :

a.  Biologi

Memanfaatkan keberadaan musuh alami parasitoid  Euphorus helopeltidis Ferr., Erythmelus     helopltidis Gah., dengan tingkat parasitisme         50–80 % dan  predator Sycanus leucomesus Wlk., Isyndrus heros (F), dan Cosmolestes picticeps Stal. mengembangbiakkan dan melepasnya lagi ke alam.

b. Kimiawi

Penggunaan insektisida secara selektif.

HAMA, PENYAKIT DAN DEFISIESI PADA TANAMAN CABAI

a.

Kutu Daun

 

 

1. Aphis gossypii Glover

Penyebab : Aphis gossypii Glover.

Gejala :

Tanaman yang terserang, daunnya akan mengeriting karena cairan dalam daun dihisap oleh hama ini. Pada serangan hebat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman mengerdil. Hama ini juga merupakan vektor (pembawa) penyakit virus. Hama dapat mengeluarkan kotoran "embun madu’, sehingga kadang pada tanaman yang terdapat banyak kutu ini akan ditemui semut-semut yang akan memamfaatkan kotorannya. Embun madu yang dapat menjadi media tumbuhnya jamur jelaga yang dapat menutupi daun dalam proses fotosintesa.

 

 

2. Myzus persicae Sulzer

Penyebab : Myzus persicae Sulzer.

Gejala :

Seperti halnya Aphis gossypii, tanaman yang terserang oleh hama ini daunnya (terutama daun muda) akan mengerut, melengkung dan mengeriting. Bila serangan menghebat daun akan menampakkan gejala klorosis (menguning). Hama ini juga merupakan vektor penyakit virus yang sangat efektif. Kutu daun ini juga menghasilkan kotoran berupa embun madu yang dapat mendorong timbulnya jamur jelaga.

 

 

3. Thrips

Penyebab : Thrips spp.

Gejala :

Tanaman yang terserang , daunnya akan memperlihatkan gejala mengeriting ke atas. Hama ini akan menghisap cairan pada daun yang menyebabkan daun akan mengerut, menyempit, dan permukaannya tidak rata karena terbentuk lekukan-lekukan. Keadaan ini membuat pertumbuhan tanaman terhambat dan selanjutnya dapat mengakibatkan tanaman menjadi mengkerdil. Pada sisi bagian bawah daun terlihat adanya bercak-bercak kecil yang semula berwarna putih keperakan yang lama-lama akan berubah menjadi coklat karena jaringannya mati yang akhirnya mengakibatkan daun tersebut akan rontok. Hama thrips ini juga merupakan pembawa penyakit virus yang efektif.

 

 

4. Tangau

Penyebab : Tetranychus spp.

Gejala :

Hama ini dapat menyerang tanaman pada daun, batang dan buah. Daun yang terserang akan diisap cairannya. Awalnya pada bagian pangkalnya kemudian pada seluruh permukaan daun. Daun akan mengecil, mengerut, mengeriting, dan melekuk ke dalam. Pertumbuhan tanaman akan terhambat dan mengkerdil. Pada serangan hebat, daun akan terlihat berbercak yang semula berwarna kekuningan selanjutnya akan menghitam dan kemudian mati.

 

b.

Ulat

 

Penyebab :
- Ulat grayak Spodoptera litura Fabricius
- Ulat penggerek buah Heliothis armigera Hubner
- Ulat tanah Agrotis yopsilon Rottenbrg.

Gejala :

a. Ulat grayak Spodoptera litura Fabricius Gejala serangan terlihat pada daun. Ulat kecil yang baru menetas dari telur (larva muda) akan bergerombol pada sisi bagian bawah daun. Ulat-ulat kecil ini mulai memakan daging daun dan meninggalkan lapisan terluar dari daun (epidermis) yang berupa lapisan tipis berwarna putih tembus pandang. Sedangkan ulat yang besar (larva dewasa) dapat memakan urat-urat daun sehingga daun akan berlubang-lubang. Hama biasanya menyeerang tanaman pada malam hari.

b. Ulat penggerek buah Heliothis armigera Hubner Gejala serangan terlihat pada buah. Ulat akan melubangi buah cabe terutama di bagian dekat tangkai buah. Kemudian ulat akan masuk ke dalam buah dan memakan bagian dalam buah. Buah yang terserang akan rusak dan lama-lama rontok dan menjadi busuk basah setelah penyakit sekunder ikut masuk dalam buah.

c. Ulat tanah Agrotis yopsilon Rottenbrg Sering merugikan bila ulat menyerang tanaman yang masih muda, baik di persemaian maupun setelah melakukan pindah tanam. Gejala yang terlihat yaitu tanaman muda akan patah, terpotong pada pangkal batangnya. Hama ini biasanya menyerang tanaman pada malam hari sedang pada siang hari bersembunyi di dalam tanah.

 

c.

Lalat Buah

 

 

Penyebab :
Dacus dorsalis Hend. (=Dacus ferrugineus F.) yang belakangan ini disebut dengan Bactrocera papayae.

Gejala :

Hama menyerang buah yang masih muda atau yang sudah tua. Buah yang tersrang hama akan terlihat dengan adanya bercak kecil lunak kehitaman. Lama-lama buah akan rusak, rontok dan menjadi busuk basah. Bila buah tersebut terbuka, di dalamnya akan terlihat adanya belatung (Jawa : singkat, set) yang merupakan larva dari lalat buah. Larva ini berwarna putih kekukingan dan dapat melenting.

 

d.

Penyakit

 

 

1. Penyakit Tepung

Penyebab :
Jamur Leveilula taurica (Lev.) Arn atau Oidiopsis taurica Salmon.

Gejala :

Pada daun terlihat jamur putih seperti tepung, baik pada permukaan daun maupun pada sisi bagian bawah daun. Daun yang terserang kemudian akan menguning dan cepat rontok.

 

 

2. Layu Fusarium

Penyebab :
Jamur Fusarium oxyporum Schlecht.

Gejala :

Biasanya dimulai dengan menguning atau layunya daun bagian bawah dekat pangkal batang (daun tua). Bila pada bagian pangkal batang diiris akan terlihat warna coklat pada pembuluh kayunya. Akar tamanan yang diserang menjadi rusak dan busuk. Selanjutnya membuat tanaman menjadi layu dan mati. Berbeda dengan layu bakteri, layu fusarium ini tidak menyebabkan keluarnya lendir.

 

 

3. Busuk Leher Akar

Penyebab :
Jamur Sclerotium rolfsii Sacc.

Gejala :

Mula-mula pada tanaman terlihat gejala layu dan pada pangkal batangnya (leher akar) terlihat pelukaan berwarna coklat lembut. Kemudian pada pelukaan tersebut tumbuh jamur berbentuk butiran kecil-kecil bulat atau lonjong berwarna putih yang selanjutnya akan berubah menjadi coklat. Tanaman akhirnya menjadi layu dan mati.

 

 

4. Layu Bakteri

Penyebab :
Bakteri Pseudomonas solanacearum Smith.

Gejala :

Mula-mula tanaman terlihat layu seperti kekurangan air, terutama pada daun-daun muda (bagian atas dari tanaman) tak lama kemudian tanaman menjadi layu keseluruhannya dan mati. Bila pada pangkal batang dipotong melintang ataupun membujur akan terlihat pembuluh kayunya berwarna coklat. Bila bagian yang paling dekat dengan perakaran (pangkal batang) dipotong miring kemudian dimasukkan ke dalam gelas berisi air jernih, maka tak lama kemudian akan keluar cairan (lendir) yang berwarna putih (sepintas seperti asap yang keluar dari batang rokok). Lendir tersebut akan mengendap ke dasar gelas. Lendir ini merupakan massa bakteri. Adanya massa bakteri ini dipakai untuk membedakan penyakit layu bakteri dengan layu fusarium (pada layu fusarium tidak keluar cairan putih ini). Pada akar sering tampak sebagian akarnya menjadi coklat busuk.

 

 

5. Virus Mosaik

Penyebab :
Beberapa Jenis Virus.

Gejala :

Tanaaman yang teserang daunnya akan berubah warna dan menampilkan campuran warna Hijau dengan bercak bercak tidak merata, noda-noda yang bentuknya tidak menentu dengan warna hijau muda atau kuning, selain itu daun mengeriting kadang menggulung dan mengecil/menyempit. Ruas-ruas akan sangat memendek sehingga pertumbuhannya akan menggerombol. Tanaman akan kerdil, mengkerut dan kadang terjadi pembengkakan jaringan. Pada serabngan berat tanaman akan sulit berbuah , bila berbuah maka buahnya mempunyai bentuk yang tidak sempurna.

 

e.

Penyakit Fisiologis (Defisiensi Unsur Hara)

 

 

1. Busuk Ujung Buah

Penyebab :
Kekurangan Unsur Kalsium (Ca).

Gejala :

Ujung buah yang belum matang terlihat berwarna kekuningan, kemudian menjadi kuning. Perkembangan selanjutnya kuning kecoklatan yang akhirnya berubah menjadi coklat. Jaringan pada tempat tersebut akan rusak sampai menjadi coklat tua kehitaman, buah akan cepat berubah warna menjadi merah pucat atau merah kekuningan dan akhirnya rontok.

 

 

2. Bercak Bakteri

Penyebab :
Bakteri Xanthomonas campestris pv. vesicatoria Dye.

Gejala :

Pada daun tampak bercak air kemudian menjadi bercak berbentuk bundar atau tidak menentu dengan tepinya yang berwarna kecoklatan. Bercak itu kemudian menghitam dan bagian tengahnya melekuk dengan warna keputihan. Bercak mudah pecah. Daun yang terserang akan cepat rontok sebelum waktunya. Pada buah terdapat bisul-bisul bulat dengan warna putih kadang dengan pusatnya berwarna kecoklatan. .

 

 

3. Busuk Lunak

Penyebab :
Bakteri Erwinia carotovora subsp. carotovora (Jones) Dye.

Gejala :

Busuk basah, lunak. Terjadi pada buah. Gejala awal dapat terlihat dengan warna yang tua kadang kecoklatan pada jaringan pangkal tangkai buah. Lama-lama mengakibatkan tangkai buah menjadi busuk dan selanjutnya menjalar pada buah. Penyakit ini menyerang setelah panen (dipenyimpanan atau dipengangkutan).

 

 

4. Kekurang Boron

Penyebab :
Tanaman kekurangan unsur Boron (B).

Gejala :

Tanaman pertumbuhannya terhambat, bentuk tanaman tidak normal atau tumbuh 2 batang yang berhimpitan. Kadang ruas akan memendek. Sering terjadi retak-retak pada batang. Daya berbuah tanaman kurang dan bentuk buah menjadi tidak normal.

 

 

5. Kekurangan Magnesium

Penyebab :
Tanaman kekurangan unsur Magnesium (Mg).

Gejala :

Pada daun-daun tua (bagian bawah dari tanaman) memperlihatkan gejala menghilangnya warna hijau daun. Daun akan menguning dan berbercak-bercak merah coklat, sedang tulang daun dan sirip daun tetap berwarna hijau. Gejala ini akan terus naik ke atas. Pada keadaan berat tanaman akan merana hidupnya.