November 17, 2008

hama dan pengendaliannya

Kutu Sisik/Kutu Perisai (Lepidosaphes beckii ; Uniaspis citri)

Ordo    :  Homptera

Famili  :  Diaspididae


Penyebaran :

Di Indonesia kutu ini terdapat di Sumatera dan Jawa. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Amerika.

 

Gejala :

Bagian tanaman jeruk yang diserang oleh kutu ini adalah daun, buah dan tangkai. Kutu-kutu tersebut menyukai tempat-tempat yang terlindung, terutama banyak dijumpai di bawah permukaan daun disepanjang tulang daun. Daun jeruk yang terserang akan mengakibatkan daun-daun berwarna kuning, terdapat bercak-bercak khlorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering, serta terjadi retakan-retakan pada kulit. Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena penampakannya yang kotor, tetapi apabila buah yang kotor itu dibersihkan akan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah. Lepidosephes beckii menyukai tajuk pohon yang padat, dan serangan yang berat biasanya terjadi pada bagian tengah tajuk pohon. Uniaspis citri banyak menyerang tanaman jeruk jenis Citrus nobius.

 

Biologi :

Lepidosaphes beckii. Imagonya berwarna ungu atau coklat gelap, mempunyai bentuk yang bervariasi yaitu panjang, melingkar dan koma. Telur diletakkan secara berkelompok sebanyak 40–80 butir di sekitar tubuhnya. Pada musim kemarau telur-telur tersebut akan menetas selama 15–20 hari sedangkan pada musim hujan waktu penetasan akan lebih panjang lagi. Kutu betina mengalami 12 kali pergantian kulit sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan mengalami 3 kali pergantian kulit.

Uniaspis citri. Telur diletakkan oleh serangga betina secara terpisah, peletakan telur kedua tidak akan berlangsung apabila telur pertama belum menetas. Kutu dewasa berbentuk oblong. Serangga betina berwarna coklat dengan pinggiran berwarna abu-abu. Panjang kutu betina 1,5–2,25 mm. Serangga jantan berwarna putih. Spesies ini mengeluarkan sekresi toksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada pertanaman jeruk dan gugurnya daun. Kutu betina mengalami 2 kali pergantian kulit sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan mengalami 3 kali pergantian kulit.

 

Tehnik pengambilan contoh dan penentuan saat aplikasi :

Pengamatan dilakukan pada permukaan daun/buah pada 4 kuadran, masing-masing 5 tanaman jeruk. Saat penentuan aplikasi bila skoring menunjukkan 10 % daun/buah terinfeksi.

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Tanaman muda di pembibitan dan juga pada cabang/ranting tanaman jeruk yang masih muda. Hama L. beckii menyukai bagian tengah tajuk pohon yang padat.

Pengendalian :

a. Biologi

Musuh alami kutu sisik adalah parasit Aphytis lepidosaphes, Aspidiotiphagus citrinus, dan cendawan Fusarium coccophilum.  Musuh alami ini sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan.

b. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif sehingga musuh alami tidak ikut musnah.

 

5.  Ulat Penggerek Bunga dan Puru Buah (Prays  spp.)

Ordo           :  Lepidoptera

Famili :  Yponomeutidae

 

Penyebaran :

-   Prays endocarpa Meyr. di Indonesia terdapat di Sumatera dan Jawa. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia.

-    Prays citri Mill. tersebar dari Eropa Tenggara sampai dengan Asia Tenggara. 

 

Gejala :

Prays citri terutama menyerang kuncup bunga jeruk manis atau jeruk besar yang belum mekar sehingga apabila buah berkembang, akan meninggalkan bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3 – 0,5 cm. Bunga-bunga yang terserang parah mudah rontok atau gugur. Infeksi sekunder sering terjadi melalui luka, menyebabkan buah muda gugur sebelum tua.

Prays endocarpa menyerang buah-buah muda dan meninggalkan bekas berupa puru-puru. Seiring dengan perkembangan buah, pada pupur-puru tersebut terjadi lubang, menyebabkan buah berkualitas rendah. Buah-buah yang banyak diserang oleh dua ulat ini terutama dari jenis jeruk yang berkulit tebal seperti jeruk besar, jeruk manis, jeruk sitroen, dan grapefruit.

 

Biologi :

Kedua serangga ini mempunyai 4 stadium hidup yaitu telur, larva, pupa/kepompong dan dewasa.

Prays citri mempunyai telur dengan ukuran     0,1–0,2 mm, berwarna transparan, kuning muda atau kuning tua sesuai dengan umurnya. Telur-telur ini diletakkan oleh induk betina pada malam hari secara terpisah pada kuncup bunga dan kadang-kadang pada buah muda.

Larva yang baru menetas berupa ulat masuk ke dalam bunga dan menggerek bunga dari bagian dalam. Kadang-kadang ulat juga masuk ke dalam kulit buah dan tetap tinggal dalam endokarpa sampai stadium pupa. Ulat berwarna hijau muda dengan kepala coklat, panjang 5 mm. Stadium ulat berlangsung 3 minggu.

Pupa berwarna coklat, berukuran 5 – 5,5 mm, berada dalam bunga, kulit buah atau bagian-bagian tanaman yang tersembunyi. Stadium dewasa berupa kupu dan stadium ini keluar dari pupa dengan meninggalkan bekas lubang pada puru-puru di bagian tanaman tempat pupa tinggal.

Prays endocarpa mempunyai telur yang datar, berwarna hijau transparan, dengan diameter 0,4 mm. Telur-telur diletakkan secara berserakan di bagian kulit buah muda pada malam hari. telur menetas 4 hari kemudian dan larva yang keluar berwarna hijau, kemudian nampak garis-garis melintang berwarna merah pada tubuh larva, ukuran panjang larva sampai dengan 5–7 mm. Ulat atau larva menggerek kulit buah jeruk serta hidup di dalamnya.

Kepompong berwarna merah abu-abu, panjang  4,5–5,5 mm. Pupa dapat ditemukan pada buah, atau lebih sering ditemukan pada ranting atau tepi daun. Siklus hidup dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa berlangsung 29 hari.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman jeruk mulai berbunga, larva akan masuk ke dalam kuncup-kuncup bunga atau pada kulit buah-buah muda dan hidup di dalamnya.

 

Teknik pengambilan contoh dan penentuan saat aplikasi :

Pengamatan dilakukan pada bunga yang belum mekar sebanyak 50 bunga per tanaman yang diambil secara acak pada 10 % populasi tanaman. Ambang ekonominya adalah 50 % bunga terinfeksi atau 2–3 % buah terinfeksi.

 

Pengendalian :

        a.  Mekanis/Fisis

Membungkus buah-buah selagi masih kecil dapat mencegah kerusakan. Buah dibungkus dengan kain atau pembungkus lainnya yang tidak rusak oleh hujan. Pembungkusan buah yang sudah agak besar mungkin sudah terlambat karena penularan sudah terjadi.

     Buah-buah yang sudah terserang sebaiknya dipetik untuk dibenamkan ke dalam tanah. ulat-ulat dalam kulit buah akan terbunuh.

 

b. Biologi

Mengembangkan musuh alami dari hama ini yakni tabuhan parasit Ageniaspis sp. (Chalcidoidea : Encyrtidae) dan Enderus malayensis Ferr. (Chalcidoidea : Eulophidae) untuk menekan perkembangan populasi Prays spp. Terutama di daerah yang lembab dan teduh.

 

c. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi pada saat ulat-ulat sudah berada di dalam kulit buah, tidak akan berhasil. Penyemprotan buah harus dilakukan pada saat telur belum menetas, sehingga ulat yang keluar dari telur akan segera terbunuh sebelum menggerek.

 

8. Trips (Scirtothrips citri) (Moulton)

Ordo            :  Thysanopetra

Famili          :  Thripidae

 

Penyebaran :

Hama ini berasal dari Sri Lanka, namun sekarang telah menyebar luas ke Indonesia (Jawa) dan Australia.

 

Gejala :

Kerusakan tanaman disebabkan oleh nimfa dan imago trips. Serangan trips pada tangkai dan daun muda mengakibatkan helai daun menebal, kedua sisi tepi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Daun pada ujung tunas menjadi hitam, kering kemudian gugur. Serangan pada buah terjadi ketika buah masih sangat muda, dengan meninggalkan bekas luka berwarna coklat keabu-abuan yang kadang-kadang disertai garis nekrotis di sekeliling luka. Bekas luka ini tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai.

 

Biologi :

Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, maka seekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.

Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.

Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung, biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman.

Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9 mm, trips jantan lebih pendek.

Dalam satu tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau, perkembangan telur sampai dewasa   13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20 hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat cepat.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Tangkai dan daun muda serta buah-buah muda merupakan sasaran dari hama ini. bila suhu di sekitar pertanaman meningkat, maka perkembangan populasi tungau semakin cepat.

 

Pengendalian :

   a. Kultur teknis

   - Menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga cahaya matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk.

    -  Hindarkan penggunaan mulsa jerami yang dapat digunakan oleh trips untuk meletakkan telur.

 

b. Kimiawi

Penggunaan insektisida yang efektif, dilakukan terutama pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim kemarau cukup efektif mengendalikan populasi trips.

 

9.  Kutu Dompolan (Planococcus citri Risso)

Ordo    :  Hemiptera

Famili  :  Pseudococcidae

 

Penyebaran :

Tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, banyak dijumpai di rumah kaca serta menyukai berbagai tanaman.

 

Gejala serangan :

Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas.

 

Biologi :

Kutu dewasa berbentuk oval, datar, berwarna kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, panjang 3–4 mm, lebar 1,5–2 mm. Tubuh serangga ditutupi lapisan lilin. Di sepanjang tepi badan kutu terdapat duri-duri dari bahan semacam lilin sebanyak   14–18 pasang dan duri pada bagian pangkal panjangnya dua kali dari panjang duri lainnya.

Telur berwarna kuning dan diletakkan di dalam kantong yang terbuat dari bahan menyerupai benang-benang lilin halus yang berada di belakang tubuh kutu betina. Ukuran kantong-kantong ini kadang-kadang lebih besar dari ukuran kutu betina. Seekor kutu betina mampu bertelur 300 butir, telur diletakkan pada bagian tanaman dan berlangsung antara 2–17 hari.

Nimfa yang baru menetas dari telur berwarna hijau muda atau kuning pucat, atau merah tua tergantung stadiumnya, bergerak meninggalkan induknya dan mencari tempat di bagian tanaman lain. Perkembangan nimfa jantan telah sempurna ditandai dengan adanya sekresi puparium yang berlilin di akhir instar kedua P. citri betina mengeluarkan sex-feromon yang khas yang dapat menarik kutu jantan pada jarak dekat.

Populasi kutu dompolan meningkat selama musim kemarau, terutama bila kelembaban nisbi pada siang hari di bawah 75 %. Ledakan populasi akan terjadi bila kelembaban nisbi turun di bawah 70 % dan berlangsung terus menerus selama 3–4 bulan, dan hari hujan di bawah 10 hari. penyebaran kutu dibantu oleh angin, hujan dan semut gramang.

Kutu ini memproduksi embun madu yang sangat disukai oleh semut. Bila produksi embun madu berlebihan biasanya timbul jamur jelaga pada daun, tangkai atau buah sehingga pertumbuhan bagian-bagian tersebut tidak normal dan kualitas buah turun. Kutu ini menyukai tempat yang agak teduh tetapi tidak terlalu lembab.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

P. citri sangat menyukai buah jeruk yang masih muda dan dapat pula menyerang pucuk-pucuk. Populasi akan meningkat di musim kemarau dan akan menurun pada musim hujan. Pada musim hujan cendawan Entomophthora fresenii akan menyebabkan kutu-kutu ini mati.

 

Tanaman inang lain :

Kopi, pupuk hijau seperti Desmodium sp., Tephrosia sp., Indigo sp., lamtoro (Leucaena glauca), Castilloa, Loranthus dan beberapa gulma.

Teknik pengambilan contoh dan penentuan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 20 % populasi tanaman. Bagian tanaman yang diamati adalah buah, sebanyak 10 buah per tanaman yang dilakukan secara acak. Ambang ekonominya adalah bila 5 % buah terinfeksi.

 

Pengendalian

     a.    Kultur teknis

Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar tidak terlalu padat dan saling menaungi.

     b.    Mekanis/Fisis

Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu

     c.    Biologi

Memanfaatkan keberadaan musuh alami predator dari famili Coccinellidae seperti Scymnus apiciflavus,  S. roepkei, Brumus saturalis, Coccinella repanda, dari famili Cecidomyidae seperti Coccodiplosis smithi dan  parasit dari famili Encyrtidae seperti Anagrus greeni dan Leptimastix trilongifasciatus.

      d.   Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dengan insektisida yang efektif.

 

6.  Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella Moore)

Ordo    :  Lepidoptera

Famili  :  Pryalidae

 

Penyebaran :

Di Indonesia hama ini terdapat di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia.

 

Gejala :

Ulat menggerek buah sampai ke daging buah, sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok, kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila serangan parah buah akan busuk dan gugur.

Buah yang peka terhadap serangan hama ini adalah buah yang berumur 2–5 bulan dari jenis jeruk besar, ponderosa, manis, ktes, satsuma, naval orange dan grapefruit. Jenis keprok dan siam relatif tidak disukai.

 

Biologi :

Serangga betina meletakkan telur secara berkelompok, tersusun seperti genting pada separuh bagian bawah kulit buah. Telur menetas dalam 5–7 hari. ulat yang baru menetas berwarna kuning kemerahan, dengan panjang 2 mm.

Ulat ini segera menggerek ke dalam kulit buah jeruk secara berdekatan. Bahan gerek serta kotoran ulat keluar dari lubang dan melekat pada kulit luar. Dari liang gerek keluar cairan kental. Pada instar berikutnya, ulat-ulat tersebut masing-masing menggerek ke dalam daging buah. Apabila ulat cukup banyak, maka seluruh isi buah membusuk. Menjelang masa kepompong ulat berubah menjadi hijau dengan panjang 16 mm. Stadium ulat/larva 13–21 hari. ulat yang akan berkepompong keluar dari buah. Dengan menggantungkan diri pada benang sutera yang dihasilkannya, ulat ini turun ke bawah, masuk ke  dalam tanah pada kedalaman 1–2 cm untuk berkepompong.

Kepompong berwarna merah kecoklatan dengan panjang tubuh 14 mm. Setelah 10–11 hari, ngengat yang berwarna abu-abu keluar dari kepompong. Panjang tubuh ngengat betina 10–11 mm, sedangkan ngengat jantan 10 mm. Ngengat aktif pada malam hari tetapi tidak tertarik pada cahaya. Siklus hidup dari telur sampai menjadi kupu-kupu berlangsung antara 29–39 hari.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman berbuah, buah-buah yang berumur 2 bulan dengan ukuran diameter 5–6 cm. Serangan masih berlanjut sampai buah berumur 3 bulan dan menjelang masak.

 

Teknik pengambilan contoh dan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 4 kuadran. Masing-masing kuadran diambil contoh buah sebanyak 10 buah. Saat penentuan aplikasi dilakukan bila 5% buah terinfeksi.

Tanaman inang lain : Belum diketahui.

 

Pengendalian :

a. Mekanis/Fisis

    -  Untuk mencegah peletakkan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda.

   -  Memetik buah jeruk yang telah terserang, dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam (30 cm).

   

    b. Biologi

Pemanfaatan musuh alami. Parasit telur Trichogramma nana  dan Bracon sp. dengan parasitisme masing-masing 16 persen dan 11 persen.

 

c. Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan pada saat telur belum menetas. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. Penggunaan insektisida yang efektif yang disemprotkan pada saat buah berumur 2–5 bulan cukup efektif menekan timbulnya kerusakan karena Citripestis.

 

7.   Tungau Merah (Brevipalpus spp., Aceria sheldoni, Tetranychus sp.)

Ordo           :  Acarina

Famili         :  Tetranichidae

 

Penyebaran :

Terdapat di seluruh Indonesia dan juga di negara-negara tropika dan subtropika lainnya.

 

Gejala :

Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan yang mendadak dan tidak diharapkan. Tungau menyerang tangkai, daun dan buah. Tangkai yang terserang akan berwarna seperti perunggu, pada permukaan atas daun terdapat titik berwarna kuning atau cokelat.

Serangan pada permukaan bawah daun menyebabkan mesofil rusak sehingga transpirasi tanaman meningkat. Akibatnya banyak daun yang gugur pada musim kemarau. Serangan pada buah mengakibatkan permukaan buah ber-bercak-bercak kecil, kesegaran dan ukuran buah berkurang, serta buah yang gugur meningkat.

Gejala khas kerusakan kulit buah berbeda untuk setiap jenis jeruk dan tingkat kemasaman buah. Pada grapefruit, lemon dan jeruk nipis, serangan pada awal perkembangan buah menyebabkan warna keperak-perakan pada kulit dan apabila serangan lebih parah mengakibatkan kulit buah bersisik. Pada jeruk manis, serangan pada fase perkembangan buah mengakibatkan timbulnya retakan-retakan coklat pada permukaan kulit, sedangkan pada fase pemasakan buah, kerusakan pada kulit ini menyerupai russeting.

 

Biologi :

          Brevipalpus (= Tenuipalpus) spp.

Tungau Brevipalpus (= Tenuipalpus) spp.. betina bertelur 4 butir, stadium telur berlangsung 4 hari. Tungau berbiak terutama pada musim panas, sedangkan pada musim hujan bersembunyi di tempat-tempat terlindung yaitu di ketiak-ketiak ranting atau dalam sela-sela kulit ranting yang lebih tua. Brevipalpus sebenarnya kurang menimbulkan kerusakan pada buah karena serangan berat biasanya terjadi pada ranting dan daun jeruk.

Tungau betina berbentuk oval, berwarna kemerah-merahan dan berukuran 0,25 x 1,12 mm. Tungau jantan berbentuk segitiga dan lebih kecil ukurannya dari betina. Tungau betina berkembang biak secara tunggal atau dalam kelompok pada permukaan bawah daun di sekitar ibu tulang daun atau di celah-celah kulit ranting atau cabang. Perkembangbiakan tungau ini relatif lambat. Satu siklus generasi sekitar 6 minggu.

 

          Aceria (= Eriophyes) sheldoni (Ewing)

Tungau Aceria (= Eriophyes) sheldoni (Ewing) dewasa, berbentuk memanjang, berwarna kuning terang sampai kuning seperti jerami, berukuran 0,1 mm. Tungau mengalami pergantian kulit 2 kali sebelum menjadi dewasa. Setiap stadium berlangsung 1–3 hari, berbentuk seperti tungau dewasa hanya ukurannya yang lebih kecil.

Tungau dewasa mulai bertelur sejak berumur   1–2 hari dan terus berlangsung selama hidupnya yang lebih kurang 20 hari dengan jumlah telur 1–2 butir setiap hari atau 20–40 butir sepanjang masa hidupnya. Telur diletakkan per butir atau berkelompok di permukaan daun, buah atau tangkai. Telur berwarna kuning jernih atau transparan, berukuran lebih kurang ¼ panjang tungau dewasa.

Siklus hidup dari telur sampai menghasilkan telur lagi berlangsung 7–10 hari pada musim kemarau, kadang-kadang 14 hari pada musim hujan atau bisa lebih lama tergantung dari suhu lingkungan. Serangan dapat terjadi di musim kemarau dan musim hujan; tungau ini tidak menyukai cahaya. Oleh karena itu, kerusakan biasanya terjadi pada buah-buah yang ternaungi. Jeruk jenis lemon dan grapefruit merupakan tanaman inang yang disukai.

         Tetranychus  sp.

Satu ekor betina Tetranychus  sp. dapat memproduksi 17–37 butir telur, yang berlangsung 12 hari untuk betina dan 11 hari untuk jantan pada kelembaban 50–70%. Telur berbentuk bulat berwarna merah, biasanya diletakkan pada daun dan tangkai daun muda yang sukulen. Telur biasanya diletakkan pada permukaan atas sepanjang ibu tulang daun dan pada petiole.

Lama hidup tungau dewasa berlangsung selama 23 hari, dalam kondisi kelembaban rendah populasinya dapat meningkat 8,5 kali dalam 10 hari. serangan Tetranychus dimulai dari tunas atau daun-daun muda kemudian bergerak ke buah-buah muda. Tungau ini kurang menyukai keadaan ternaung dan selalu bergerak ke arah datangnya cahaya tetapi menghindar dari datangnya cahaya langsung. Perilaku ini yang menyebabkan serangan paling parah terjadi pada permukaan buah yang menghadap ke arah datangnya cahaya.

 

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populsi :

Ranting, tangkai daun, daun dan buah-buah muda merupakan sasaran dari tungau ini. Brevipalpus menyukai ranting dan daun jeruk, Aceria menyukai buah-buah yang ternaungi, sedangkan Tetranychus menyukai tunas dan buah-buah muda yang menghadap ke arah datangnya cahaya.

 

Tehnik pengambilan contoh dan penentuan ambang ekonomi :

Pengamatan dilakukan pada 10% dari populasi tanaman. Bagian tanaman yang diminati adalah tunas-tunas muda dan buah. Tiap tanaman diamati 4 tunas vegetatif aktif dan buah sebanyak 20 buah. Penentuan saat aplikasi untuk Aceria  dilakukan apabila ditemukan 30 % kuncup terinfeksi, sedangkan untuk Tetranychus apabila ditemukan 10 % tunas terinfeksi dan 2 % buah terinfeksi.

 

Tanaman inang lain :

Tetranychus spp.           bersifat polifagus, menyukai kapas, kacang-kacangan, jeruk, tanaman hias dan gulma terutama golongan dikotiledon.

Brevipalpus  spp.           bersifat polifagus, menyukai tanaman perdu, pohon-pohon besar, tanaman hias seperti Hibiscus, Buddleya, ubi jalar, teh.

 

Pengendalian :

        a.  Biologi

Pemanfaatan musuh alami parasitoid Tetranychus  spp., predator Phytoseiulus persimilis (Ath. Henr),          P. macropilis (Banks), Stethorus spp. (Coccinelidae), Coccinella repanda

   b. Kimiawi 

Penyemprotan dengan insektisida propargit pada awal peningkatan populasi efektif menekan populasi tungau
Lalat Buah (Bactrocera  spp.)

Ordo    :  Diptera

Famili  :  Tephritidae

Penyebaran :

Lalat buah Dacus spp. banyak ditemukan di daerah Asia-Pasifik. Lalat buah yang banyak terdapat di Indonesia adalah Bactrocera spp. Spesies lalat buah di Asia Tenggara yang mempunyai arti penting secara ekonomi adalah B. dorsalis complex

Gejala :

Sifat khas lalat buah  adalah meletakkan telurnya di dalam buah. Tempat peletakkan telur ditandai dengan adanya noda/titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor ini merupakan gejala awal serangan lalat buah. Telur menetas menjadi larva (belatung).

Larva hidup di dalam buah dan merusak daging buah, sehingga menyebabkan buah menjadi busuk, biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengahnya, kemudian gugur sebelum masak (sering disebut buah berulat). Apabila dibelah, pada daging buah terdapat belatung kecil-kecil dengan ukuran panjang 1 cm, dan biasanya meloncat apabila tersentuh.

Buah yang gugur, apabila tidak segera dikumpulkan dan dimusnahkan, akan menjadi sumber infeksi atau perkembangan lalat buah generasi selanjutnya.

Biologi :

Lalat buah mempunyai empat stadium metamorfosis, yaitu telur, larva, pupa, dan imago (serangga dewasa).

Telur lalat buah berbentuk bulat panjang, berwarna putih, dan diletakkan berkelompok 2–15 butir pada buah-buah yang agak tersembunyi atau tidak terkena sinar matahari langsung, serta pada buah yang agak lunak dan permukaannya agak kasar. Seekor lalat buah betina dapat meletakkan telur 1–40 butir/hari, dengan jumlah 1.200 -1.500 butir. Telur akan menetas menjadi larva 2 hari setelah diletakkan di dalam buah.

Bentuk dan ukuran larva famili Tephritidae umumnya bervariasi, tergantung dari spesies dan ketersediaan zat gizi esensial dalam media makanannya. Larva berwarna putih keruh atau putih kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva hidup berkembang dalam daging buah selama 6–9 hari, menyebabkan buah menjadi busuk. Apabila larva sudah dewasa, kemudian akan keluar dari buah, dan biasanya larva jatuh (melenting) ke tanah sebelum berubah menjadi pupa (kepompong).

Larva masuk ke dalam tanah dan memasuki stadium pupa tepat di bawah permukaan tanah. Pupa berwarna kecoklatan, berbentuk oval dengan bentuk panjang  ± 5 mm. Lama stadia pupa 4–10 hari dan ke luar serangga dewasa (imago) lalat buah.

Imago berwarna merah kecoklatan, abdomen umumnya terdapat 2 pita melintang dan satu pita membujur berwarna hitam atau bentuk T yang kadang-kadang tidak jelas. Ujung abdomen lalat betina lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah, sedangkan pada lalat jantan abdomennya lebih bulat. Siklus hidup dari telur sampai lalat dewasa di daerah tropis berlangsung  ±  25 hari.

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi :

Pada saat tanaman mulai memproduksi buah, terutama pada saat buah menjelang masak.

Tehnik pengambilan contoh dan saat penentuan aplikasi :

Metode yang digunakan merupakan metode untuk lalat buah Ceratitis capitata. Namun kemungkinan dapat dipergunakan untuk pengendalian Bactrocera. Pada    1 hektar tanaman dipasang 10 perangkap methyl eugenol (ME). Ambang ekonominya adalah 20 serangga dewasa per trap per minggu. 

Tanaman inang lain :

Cabai, mangga, pisang, belimbing, kopi, buah cengkeh.

Pengendalian :

a. Peraturan (Karantina)

Pencegahan terhadap serangan lalat buah

Penerapan  peraturan karantina yang ketat dapat mencegah masuknya lalat buah dari wilayah atau negara yang diketahui mempunyai masalah lalat.

b. Kultur teknis

- Penggunaan tanaman perangkap dapat didasarkan pada peringkat tanaman yang disukai lalat buah yaitu jambu air, belimbing, mangga, jambu biji, dan cabe besar. Tanaman yang memiliki nilai ekonomis rendah dapat dijadikan tanaman perangkap. Pengalaman di Bali dan Jawa Timur selasih juga dapat dijadikan pohon perangkap. Lalat buah akan berkumpul di sekitar pohon selasih, lalu dijaring.

-  Sanitasi kebun bertujuan untuk memutus-daur hidup lalat buah, sehingga perkembangan lalat buah dapat ditekan. Buah yang jatuh dikumpulkan kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dikubur.

c. Mekanis/Fisis

- Pengerodongan buah

Keuntungan  dari cara ini adalah buah terhindar dari serangan, mulus, bersih tanpa pencemaran bahan kimia, tetapi untuk areal yang luas tidak praktis.

-  Pengasapan

Tujuan dari pengasapan adalah untuk mengusir lalat buah  yang datang ke pertanaman. Pengasapan dilakukan dengan cara membakar serasah/jerami.  Pengasapan dapat mengusir lalat buah dan efektif slama 3 hari, bila asap hilang lalat akan kembali. Pengasapan terus menerus

selama 13 jam diinformasikan dapat membunuh lalat buah.

-  Penggunaan perangkap dan attraktan

Perangkap yang terbuat dari plastik  atau   botol air mineral yang sudah dipasang attraktan              (methyl eugenol, cue lure, med-lure, protein hidrolisa, ekstrak daun selasih daun melaleuca). Atraktan dapat dicampur dengan pestisida dan diteteskan pada kapas. Perangkap dipasang pada ranting atau cabang pohon setinggi 2–3 meter dari permukaan tanah. Pemasangan + 16 buah/Ha secara terus menerus dalam areal yang luas.

a.  Biologi

Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan musuh alami berupa  parasitoit seperti Biosteres sp. dan Opius sp. (famili Braconidae) dan musuh alami berupa predator yang umum adalah semut, laba-laba, kumbang stafilinid dan cocopet dapat menekan populasi lalat buah.

b.    Kimiawi

Penggunaan pestisida dapat dilakukan  dengan cara penyemprotan, pengabutan, pencelupan dan pencampuran dengan atraktan. Cara pencampuran pestisida dengan atraktan, baik sex atraktan  maupun food atraktan adalah paling mudah dan efektif.   

f. Teknik jantan mandul

Prinsip kerja Teknik Jantan Mandul dalam mengendalikan lalat buah adalah, melepas lalat buah  mandul di kebun agar bersaing kawin dengan lalat normal. Lalat betina yang kawin dengan jantan mandul tidak akan menghasilkan keturunan. Makin banyak jantan mandul yang dilepas makin cepat penurunan populasi.

g. Perlakuan pasca panen

Pengendalian pasca panen biasa dilakukan dengan perlakuan uap/udara panas (heat treatment),   udara dingin (cold treatment), dan fumigasi  

 

  Kutu Penghisap Daun (Helopeltis antonii Sign)

Ordo    :  Hemiptera

Famili  :  Miridae

Penyebaran :

Tersebar luas di Indonesia. Di luar negeri dilaporkan terdapat di Malaysia dan di negara-negara lainnya.

Gejala :

Hama ini terutama menyerang batang, petiola, daun muda, dan pucuk. Tampak bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas-tunas muda atau buah muda yang terserang.

Pada buah, bercak ini biasanya disertai dengan mengalirnya cairan buah yang kemudian kering membentuk semacam blendok yang akhirnya menjadi bercak nekrotis. Bercak bisa terjadi secara tunggal, namun apabila serangan berat biasanya bercak-bercak tersebut bersatu sehingga perkembangan tunas terganggu, kadang-kadang tunas menjadi kering.

Biologi :

Hama betina H. antonii meletakkan telur pada bagian tanaman yang masih muda, biasanya pada tunas-tunas yang masih sangat muda terutama pada bagian urat dan tangkai daun. Telur berbentuk seperti pisang yang salah satu ujungnya berbulu, berwarna putih, panjang 1,5 mm.

Nimfa berwarna kuning atau coklat kemerahan, pada punggungnya terdapat semacam duri pendek yang ujungnya tumpul dan memproduksi aroma seperti terpentin. Nimfa menjadi dewasa setelah 5 kali berganti kulit. Nimfa aktif pada pagi dan sore hari. Helopeltis dewasa berwarna coklat tua kadang-kadang merah kecoklatan, dengan bercak putih di bagian perut. Panjang Helopeltis betina 7–8 mm, jantan 6–7 mm. Siklus hidup berlangsung selama 3 minggu atau 1 bulan di daerah dataran tinggi.

Fase kritis tanaman :

Hama ini menyukai tunas muda, atau buah muda. Faktor iklim yang hangat dan lembab mendukung peningkatan populasi.

Tanaman inang lainnya :

Kayu manis, kina, jambu bol, akasia, jambu mete, cabai rawit, Melastoma, Datura dan beberapa jenis gulma.

Pengendalian :

a.  Biologi

Memanfaatkan keberadaan musuh alami parasitoid  Euphorus helopeltidis Ferr., Erythmelus     helopltidis Gah., dengan tingkat parasitisme         50–80 % dan  predator Sycanus leucomesus Wlk., Isyndrus heros (F), dan Cosmolestes picticeps Stal. mengembangbiakkan dan melepasnya lagi ke alam.

b. Kimiawi

Penggunaan insektisida secara selektif.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://totonunsri.blogsome.com/2008/11/17/hama-dan-pengendaliannya/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.