Mengenal Predator diantara Hama Serangga
![]() |
Pada majalah ABDI TANI edisi sebelumnya sedikit telah disinggung mengenai pengendalian hama terpadu sebagai satu cara pengendalian hama tanpa merusak lingkungan. Diantara beberapa cara pengendalian hama yang ada, pengendalian biologis merupakan alternatif pengendalian yang paling aman. Hal ini erat kaitannya dengan kelangsungan ekologi maupun habitat tanaman itu berada, karena selain mengurangi bahkan tanpa bahan kimia, metode biologis ini lebih diarahkan pada pengen-dalian secara alami dengan mem-biarkan musuh-musuh alami agar tetap hidup. Meskipun dampaknya akan dirasakan dalam jangka waktu yang lama, namun hal tersebut akan menciptakan terjaganya keseimbangan ekosistem yang ada.
|
Keseimbangan ekosistem itu sendiri terjadi pada masa dimana hewan herbivora (pemakan tumbuhan) tidak terlalu banyak memakan tumbuhan, pemangsa tidak memangsa secara berlebihan dan juga parasit tidak membunuh secara besar-besaran populasi inangnya.
Penggunaan pestisida yang berlebihan saat ini sedikit banyak telah merubah keseimbangan ekosistem yang ada diantaranya : hama sasaran menjadi lebih kuat, makin punahnya musuh alami dari musuh sasaran serta menurunnya jumlah jasad renik dalam tanah sebagai dekompositor/pengurai benda mati menjadi bahan organik yang diperlukan untuk kesuburan tanah. Bila keadaan tersebut dibiarkan maka bukan tidak mungkin pada ekosistem tanaman tersebut populasi hama maupun penyakitnya semakin bertambah sebagai dampak dari penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Disadari atau tidak, dampak pengen-dalian kimiawi yang dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan aspek lingkungan sangat berpengaruh besar pada keseimbangan ekosistem.
Sebenarnya sebelum manusia mengenal peradaban dalam budidaya tanaman, dalam suatu ekosistem telah terjadi kesei-mbangan. Namun, setelah itu keseimbangan ekosistem yang ada pun terganggu. Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan sebagai berikut : sebelum ma-nusia mengenal bercocok tanam ekosistem yang ada disana terdiri atas tumbuhan yang beraneka ragam, hewan herbivora, hewan carnivora, jasad renik (mikroba) dan bahan organik lainnya. Maka saat manusia mulai mengenal bercocok tanam, tumbuhan yang ada disana (sebagai produsen) “dipaksa “ untuk menjadi homogen atau sejenis. Sehingga tanaman lain yang tidak diinginkan dianggap sebagai gulma untuk dibersihkan. Padahal di dalam ekosistem tersebut tidak hanya dihuni oleh pemakan tumbuhan tertentu saja melainkan juga ada pemakan tumbuhan lain. Sementara kini tumbuhan yang lain yang dianggap sebagai gulma tersebut tidak ada lagi. Akibatnya, hewan herbivora (pemakan tumbuhan) yang berupa serangga, hewan besar dan lain-lain memakan tumbuhan yang ada. Akhirnya pemangsa tumbuhan tersebut memangsa tanaman yang kita budidayakan. Pemangsa tumbuhan inilah yang kita kenal sebagai hama. Disinilah awal mulanya timbul suatu momok yang dinamakan hama. Karena sebagian besar hama pada tanaman berupa serangga maka dalam hal ini akan banyak dibahas mengenai predator di dunia serangga.
Untuk memahami metode pengendalian hama secara biologis khususnya peran predator, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu rantai makanan, dan ekosistem. Ekosistem menurut Ir. Supraptono adalah suatu sistem dimana terdapat hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya baik itu biotik maupun abiotik serta terdapat pertukaran arus/energi dan materi diantara organisme dengan lingkungannya tersebut. Ekosistem itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu ekosistem alami dan buatan. Dalam hal ini ekosistem alami mempunyai kemantapan yang tinggi dibanding ekosistem buatan. Sedangkan Hickman and Thain dalam Kamus Lengkap Biologi (1993) mengungkapkan bahwa ekosistem merupakan komunitas organisme, berinteraksi sesamanya, ditambah dengan lingkungan tempat mereka hidup dan bersama-sama dengan lingkungannya saling berinteraksi misalnya danau, laut, sawah, padang rumput dll. Sistem seperti itu mencakup seluruh komponen abiotik seperti ion mineral, senyawa organik, dan kondisi iklim. Hubungan timbal balik antar organisme yang ada dalam suatu ekosistem tersebut dapat dilihat pada jaring-jaring makanan dan rantai makanan. Rantai makanan merupakan proses saling memakan antar makhluk hidup dalam satu ekosistem. Misalnya dalam ekosistem sawah, padi dimakan serangga, serangga dimakan kodok, kemudian kodok dimakan ular, ular dimakan burung elang dan seterusnya, yang pada akhirnya konsumen terakhir akan dimakan oleh bakteri pengurai. Dalam hal ini yang dinamakan predator adalah pemangsa, seperti dalam kasus padi tersebut maka kodok merupakan predator bagi serangga, demikian pula ular menjadi predator bagi kodok dan seterusnya. Sehingga bila kita ingin mengendalikan hama wereng misalnya, kita harus mengetahui binatang apa pemangsanya/musuh alaminya.
![]() |
![]() |
![]() |
Secara harfiah, predator dapat dikatakan sebagai pemangsa. Namun, dalam hubungannya dengan jaring-jaring makanan predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang. Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup , seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya.
Pentingnya Predator
Keberadaan dan pentingnya predator dalam ekosistemnya dapat kita lihat kasus sebagai berikut : saat kita memulai menanam padi, maka saat itu juga kita memulai menciptakan sebuah komunitas baru pada areal penanaman padi. Pada saat bersamaan kita tidak hanya menanam padi melainkan juga hama penghisap bulir, penggerek batang, penyakit malai, penyakit busuk malai, predator Lycosa pesudoannulata, Pederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang coccinella yang semuanya terkait dengan tanaman padi yang kita tanam. Begitu pula halnya dengan tanaman perkebunan yang dibudidayakan.
Penggunaan pestisida yang berlebihan, berspektrum luas dan tidak selektif disertai tehnik budidaya yang kurang baik akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, karena tidak hanya hama saja melainkan semua pemangsanya pun turut musnah. Dan bila terjadi ledakan populasi hama yang baru, jumlah predator yang ada tidak mencukupi sehingga pengendalian biologis tidak akan efektif.
Melihat pentingnya peran predator dan parasit dalam menjaga dan mengendalikan populasi hama, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan insektisida yang berspektrum luas, aplikasi insektisida dengan melakukan pengamatan perbandingan jumlah hama dan musuh alami, bahkan bila perlu dalam suatu areal penanaman dilakukan manipulasi lingkungan agar mendukung peran dan jumlah musuh alaminya.
Selektivitas Insektisida terhadap Hama dan Musuh Alami
Penggunaan insektisida yang berspektrum luas akan membunuh hama sekaligus musuh alaminya. Apabila aplikasi insektisida ini tetap dilakukan maka akan muncul resurgensi yaitu meledaknya populasi hama setelah dilakukan penyemprotan insektisida dibandingkan petak lain yang tidak diaplikasikan insektisida. Salah satu sebab timbulnya resurgensi adalah hilangnya musuh alami hama karena aplikasi insektisida yang berspektrum luas sehingga ikut terbunuh saat penyemprotan. Karena tidak adanya musuh alami maka hama leluasa berkembang biak tanpa adanya pengendali di alam terhadap populasinya.
Salah satu Insektisida yang aman bagi musuh alami adalah Winder 25WP . Menurut pengujian yang dilakukan Balai Penelitian Tanama Padi tahun 1998 yang diuji pada areal tanaman padi, terbukti sangat efektif dan selektif membunuh hama wereng coklat namun aman bagi musuh alaminya. Pada areal penanaman padi, predator hama wereng coklat adalah laba-laba Lycosa pseudoannulata, Paederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang Coccinella. Dalam pengujian terhadap petak yang diaplikasikan dengan insektisida Winder 25 WP yang berbahan aktif Imidaklorpid 25 %, predator tersebut tidak menunjukkan pengaruh terbunuh. Analisa ini didasarkan dari hasil uji statistik dengan membandingkan antara petak yang disemprot Winder 25 WP dengan yang tidak disemprot. Dimana hasilnya menunjukkan bahwa populasi laba-laba Lycosa pseudoannulata, Paederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang Coccinella tidak berbeda nyata dengan petak yang tidak diaplikasi. Hasil tersebut dapat dijadikan pedoman bahwa Winder 25 WP lebih aman terhadap keberadaan predator sehingga kekuatiran timbulnya resurgensi dapat dihindari.
Selain pada tanaman padi, Winder 25 WP dapat digunakan pada tanaman kapas untuk hama Aphis gossypii, wereng kapas maupun larva Heliothis armigera juga efektif dan seletif karena baik predator Aphis gossypii Glover, maupun predator wereng kapas dan larva Heliothis tidak mati oleh Winder 25 WP.
(Ir. Ignatius Julinatono, MD Surabaya)
disiarkan lanjut oleh to2n hpt
- agricultural, pengumuman | Time: 3:09 am (UTC+8) No Comments »
















