December 18, 2008

Pil & Krim Antioksidan Tak Hambat Penuaan

By Republika Contributor

SEIMBANG: Pola makan seimbang lebih efektif mengurangi risiko berbagai penyakit “tua”, dibandingkan hanya mengonsumi suplemen dan mengggunakan krim antioksidan.

LONDON– Berdasarkan sebuah studi, pola makan lengkap dengan pil dan penggunaan krim yang mengandung antioksidan tidak akan memperlambat penuaan. Penelitan itu menggunakan jenis cacing nematoda. Para peneliti menemukan bukti meski ditambahkan antioksidan untuk merusak radikal bebas tetap saja tidak akan memperlambat penuaan.

Sebuah tim dari Universsitas College London (UCL) mengatakan, tidak ada yang dapat memastikan antioksidan dapat memperlambat penuaan dalam jurnal perkembangan dan gen.

Antisoksidan sendiri merupakan bahan baku utama yang mejadi andalan industri kosmetik untuk masalah kecantikan dan kesehatam. Hal tersebut didasari atas sebuah teori yang telah berumur 50 tahun.

Di tahun 1956, disugestikan penuaan disebabkan kerusakan sel yang disebabkan reaksi oksidasi pada kulit yang disebut (superoxides) atau radikal bebas yang masuk dalam sirkulasi tubuh. Hal ini yang kemudian dikenal dengan “oxidative stress”.

Fungsi utama antioksidan adalah untuk membebaskan radikal bebas dari tubuh dan meminimalisir kerusakan sel pada kulit yang mengakibatkan penuaan.

Berdasarkan penelitian, struktur sel cacing nematoda yang memiliki kemiripan dengan manusia sehingga digunakan oleh para peneliti untuk mengekspolarasi cara kerja tubuh manusia. Mereka mungkin memiliki kemiripan gen dengan manusia, terlebih dalam jangka waktu hidup dan umur.

Peneliti dari UCL yang dipimpin oleh David Gems, memanipulasi secara genetik cacing nematoda sehingga tubuh mereka menangkal radikas bebas yang berlebih.

Pada teori ini, harusnya memberikan keuntungan pada cacing daripada kondisi normal yang tidak diberikan antioksidanuntuk masalah penuaan dan umur.

Terbukti, cacing-cacing ini telah diberikan antioksidan, hidup lebih lama dari yang lain. Hal tersebut menandakan bahwa “oxidative stress” merupakan penyebab kecil penuaan sel dan jarigan pada tubuh manusia.

Dr. Gems mengatakan, fakta yang tidak membuat kami mengerti adalah tentang mekanisme fundamental tentang penuaan. Teori Radikal Bebas telah mengisi kekosongan pengetahuan lebih dari 50 tahun, tapi tidak cukup sebagai bukti.

“Hal ini cukup jelas, jika “superoxide” diketahui, maka itu hanya bagian kecil dari sebuah cerita, kerusakan yang disebabkan proses oksidasi tidaklah universal, masalah utama terletak pada masalah penuan,” terangnya.

Dia mengatakan, kesehatan keseimbangan diet sangat penting untuk mengurangi resiko dari berbagai penyakit “tua” seperti kanker, diabetes dan osteoprosis. Tapi hal tersebut tidak dapat membuktikan mengkonsumsi antioksidan dapat memperlambat atau mencegah penuaan baik antioksidan yang berasal dari pil maupun krim.

Penelitian tersebut didukung berbagai pihak dan salah satuya, Kepala ilmu molekul dan psikologi, Dr. Alan schafer yang mengatakan, penelitian tersebut dalam poin tertentu memberitahu bagaimana manusia harus belajar tentang proses penuaan. “Yang terpenting adalah mengerti mengenai mekanisme dibalik proses penuan tersebut,” ujarnya.

Juru bicara dari Asosiasi Diet inggris mengatakan, terlalu berat untuk menemukan bukti yang mendukung antioksidan dari beberapa studi yang telah dilakukan.

“Seluruh bukti berasal dari studi epidemi yang melihat sebagian besar pola makan masyarakat yang mengonsumsi antioksidan tapi sekaligus mengkonsumsi makanan yang baik lainnya,” katanya.

Dia lebih lanjut mengatakan, apa yang telah diperlihatkan pada penelitian tersebut seperti peluru ajaib dalam hal diet dan kesehatan yang masih perlu ditindaklanjuti. (cr2/ri&toton)

December 9, 2008

Root Knot oleh Nematoda akar Meloidogyne sp

Nematoda ini mempunyai inang yang sangat luas seperti kentang, kubis, tomat, ubi jalar, tembakau, teh, tebu, jahe,  dan padi-padian. Gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar.  Pada bagian akar tanaman yang terinfeksi terbentuk kanker (gall) seperti yang disajikan pada gambar 22, atau bahkan busuk bila serangan sudah serius. Gejala umum yang dapat diamati adalah tanaman menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran.  Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat.


Gambar 22. (i) Akar tanaman krisan yang terserang Meloidogyne (ditunjukkan dengan lingkaran dan tanda panah) serta (ii) dan (iii) gall yang dibentuk akibat serangan larva nematoda (Foto: kbudiarto).

Kumpulan telur nematoda Meloidogyne dilindungi oleh cairan pekat.  Larva stadium kedua akan ke luar dari telur, berbentuk cacing dengan ukuran panjang 0,3 - 0,5 mm.  Larva tersebut bergerak aktif melalui selaput air di antara partikel-partikel tanah dan menyerang akar tanaman dengan cara melukai epidermis ujung akar dengan stilet (alat penusuk dan pengisap pada mulutnya) lalu masuk ke dalam jaringan sampai ke jaringan tengah.  Larva tersebut mengisap cairan sel akar.  Cairan pencernaan yang dikeluarkan oleh nematoda ini merangsang terjadinya pembelahan sel akar sehingga terjadi pembengkakan.  Keadaan ini dibutuhkan untuk perkembangan larva. Nematoda betina berbentuk seperti buah per dengan ukuran panjang   0,5 - 1,2 mm.  Nematoda jantan berbentuk cacing memanjang dengan ukuran 1,0 - 2,0 mm. Saat ini telah banyak nematisida untuk pengendalian nematoda Meloidogyne yang dapat digunakan. Pencegahan penyakit ini dengan sterilisasi media tanam, penggunaan benih yang sehat, serta sanitasi lingkungan pertanaman.

October 20, 2008

Berkelit dari Hama & Penyakit

Tanaman yang terserang penyakit bulai bisa gagal panen.

Selama ini, yang paling dikhawatirkan petani jagung adalah penyakit bulai. Memang ada penyakit lain, seperti hawar daun dan bercak daun, tapi berbeda dengan bulai, mewabahnya kedua penyakit tersebut jarang. Demikian papar Nuz Ichwan, Marketing Manager PT BASF Indonesia, produsen pestisida di Jakarta.

Dahsyatnya serangan penyakit bulai dapat disaksikan di Kediri, Jawa Timur, yang dalam delapan bulan terakhir terus mengganas. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat mencatat, hingga Juli 2008, luas tanaman yang terserang mencapai 708 hektar (ha), tersebar di 21 dari 25 kecamatan di sana. Dari 708 ha, 201 ha di antaranya gagal panen alias puso. Sisanya yang 304 ha mengalami serangan dengan kategori berat. Hanya 204 ha yang termasuk serangan sedang dan ringan.

Jauh sebelumnya, penyakit yang disebabkan cendawan Perenosclerospora maydis itu meluluhlantakkan kebun jagung di Lampung dan Langkat, Sumatera Utara. Pada 2004 dilaporkan, lebih dari 1.000 ha pertanaman di Lampung gagal panen. Pun di Langkat, pada Oktober 2005, sekitar 132 ha kebun jagung gagal panen akibat penyakit yang sama. “Di Lampung, penyakit bulai memang endemik,” tandas Muhamad Saifi, National Sales & Marketing Manager–Corn & Rice PT Syngenta Indonesia, produsen pestisida dan benih jagung di Jakarta.

Rotasi Tanaman

Biasanya, cendawan P. maydis menginfeksi jagung beberapa hari setelah tanam. Dan akan muncul gejala pada saat tanaman berumur dua minggu. Gejalanya, muncul garis-garis putih kekuningan (bulai) pada daun. Lama-lama warna daun berubah menjadi kecokelatan dan kering. Akhirnya tanaman akan mati karena daunnya tidak bisa melakukan fotosintesis. “Menurut data, kehilangan hasil pada tanaman yang terinfeksi bisa mencapai lebih dari 90%,”

October 18, 2008

Bakteri, Kapang, Nematoda dan Mikrosporidia Patogen


1. Serangga dapat diinfeksi oleh organisme penyebab penyakit (entomopatogen = patogen serangga) seperti bakteri, kapang, virus, mikrosporidia, dan nematoda. Pada kondisi tertentu patogen yang telah ada secara alami di dalam tubuh serangga akan mengakibatkan ledakan penyakit (epizootik) yang dapat membunuh sebagian besar populasi serangga dan sering kali bekerja sebagai agen pengendali alami.

2. Beberapa patogen sudah diproduksi secara massal dan tersedia dalam formulasi komersial. Produk tersebut sering kali dikenal dengan sebutan insektisida mikroba, biorasional, atau bio-insektisida.

3. Vallisnieri, pada abad ke-16, adalah orang pertama yang menyebutkan penyakit muscardine pada ulat sutera. Pada awal abad ke-18, untuk pertama kalinya De Reamur menggambarkan kapang cordycepps. Seabad kemudian Agustino Bassi menyarankan untuk menggunakan Beauveria bassiana sebagai pengendali hama serangga. Pada tahun 1874, Louis Pasteur juga menyarankan untuk menggunakan mikroorganisme untuk tujuan yang sama. Elie Metchnikoff menyarankan agar kapang Metarrhizium anisopliae diproduksi secara massal dan diterapkan di lapangan untuk mengendalikan hama. Metarrhizium diproduksi secara massal di Ukraina pada tahun 1884 dan diujikan pada Cleonus punctiventris (Curculionidae).

4. Dua kategori besar patogen bakteri adalah bakteri yang tidak membentuk spora dan yang membentuk spora. Bakteri yang diisolasi dari serangga berpenyakit sebagian besar adalah bakteri yang tidak membentuk spora.

5. Patogenitas bakteri yang tidak membentuk spora umumnya rendah di dalam saluran pencernaan serangga, tetapi ganas di dalam rongga tubuh. Penyakit oleh bakteri yang tidak membentuk spora muncul karena kondisi suhu tinggi, kualitas makanan buruk, berdesak-desakkan, luka, atau faktor lain penyebab stres. Rongga tubuh serangga yang sedang mengalami stres dan atau luka mudah dimasuki bakteri yang tidak membentuk spora. Di dalam rongga tubuh serangga, bakteri dapat mengakibatkan kematian karena septisemia (keracunan darah) dalam waktu satu atau dua hari.

6. Bakteri patogen yang digunakan untuk mengendalikan serangga adalah bakteri pembentuk spora, terutama dari marga Bacillus. Jenis bakteri pembentuk spora tanpa toksin di antaranya adalah B. popilliae dan B. larvae. Inang yang terinfeksi B. poplliae akan terserang milky disease. Sel vegetatif B. thuringiensis mengandung endospora dan kristal toksin protein (delta endotoksin) yang juga dikenal sebagai cry protein. Kebanyakan produk Bt komersial mengandung campuran spora dan toksin protein, namun beberapa hanya mengandung komponen toksinnya saja. Kristal toksin adalah protoksin yang harus diaktifkan sebelum mempunyai efek beracun.

7. Di dalam usus serangga, kristal protein larut pada kondisi pH tinggi (pH 10,5) dan dipecah oleh enzim protease sehingga menghasilkan toksin aktif. Toksin aktif akan terikat pada sel-sel epitel usus, menciptakan lubang-lubang di dalam sel membran dan mengakibatkan ketidakseimbangan ion. Selanjutnya terjadi kelumpuhan usus, sel-sel epitel mengalami lisis, dan isi usus masuk ke dalam rongga tubuh. Dalam waktu 10-15 menit setelah infeksi serangga berhenti makan. Serangga segera mati karena aktivitas racun atau kelaparan, atau dapat pula mati dalam 2-3 hari karena efek septisemia.

8. Insektisida Bt untuk mengendalikan larva kupu-kupu dan ngengat adalah formulasi dari strain (varitas atau subspesies) B. thuringiensis var. kurstaki (Btk). Produk Bt yang aktif terhadap larva nyamuk adalah B. thuringiensis var. israelensis (Bti). Kecuali itu, ada B. thuringiensis var. tenebrionis (Btte) yang efektif terhadap beberapa jenis kumbang Chrysomelidae dan B. thuringiensis var. japonensis (Btj) terhadap Scarabidae. Jenis bakteri lain yang juga bersifat patogenik terhadap nyamuk adalah Bacillus sphaericus yang efektif terhadap larva Culex.

9. Fungi Imperfecti mengandung paling banyak marga kapang entomopatogen, sedangkan Entomophthorales mempunyai jenis-jenis entomopatogen yang penting sebagai pengatur populasi serangga. Beberapa marga penting dari Entomophthorales adalah Entomophthora, Massospora, Coelomomyces, Lagenidium, dan marga penting dari Fungi Imperfecti adalah Beauveria, Metarhizium, Nomuraea, dan Paecilomyces.

10. Daur hidup Fungi Imperfecti dimulai dengan konidia yang menempel pada kutikula serangga. Konidia kemudian tumbuh dan menembus kutikula untuk mencapai rongga tubuh. Kapang lalu memperbanyak diri sehingga badan hifa memenuhi rongga tubuh dan serangga mati. Setelah serangga mati dan kapang memenuhi tubuh serangga, struktur buah muncul dari bangkai serangga dan menghasilkan spora pada permukaan tubuh serangga. Jika spora menempel pada serangga inang yang rentan, proses infeksi diulangi. Fungi Imperfecti sudah digunakan sebagai insektisida mikroba karena dapat ditumbuhkan pada media buatan dan bersifat patogenik.

11. Virus serangga dapat berupa DNA berantai ganda atau tunggal (dsDNA atau ssDNA) atau RNA berantai ganda atau tunggal (dsRNA atau ssRNA). Suku Baculoviridae yang merupakan virus DNA meliputi Nuclear polyhedrosis viruses (NPV) dan granuloviruses (GV). Partikel virus infektif Baculocirus atau virion dilindungi oleh mantel protein yang disebut polihedra (atau PIB = polyhedric inclusion body) atau granul. Ketika inang yang rentan memakan polihedra atau granul, mantel protein akan terlarut di dalam cairan saluran pencernaan. Virion dilepaskan ketika matriks protein terlarut. Virion memasuki inti sel-sel usus tengah, terjadi replikasi, dan akan menginfeksi berbagai jaringan dan organ dalam serangga. Serangga kemudian mati dalam beberapa hari. Secara alami NPV dan GV ada di dalam populasi serangga. Ketika populasi hama serangga tinggi, kadang-kadang terjadi epizootik yang dapat menghabiskan populasinya.

12. Cytoplasmic polyhedrosis viruses (CPV) adalah virus RNA yang menyerupai NPV. CPV hanya dibentuk di dalam sitoplasma sel inang. CPV bersifat kronis dan kurang mematikan jika dibandingkan dengan virus-virus lain. CPV akan mengakibatkan terjadinya defisiensi nutrisi dan konsekuensi fisiologi pada serangga.

Nematoda dan Mikrosporidia Patogen

1. Mickosporidia (Phylum Microspora) adalah parasit intraseluler obligat pada sebagian besar filum hewan, termasuk Arthropoda. Hampir semua bangsa serangga mempunyai jenis yang diinfeksi oleh mikrosporidia.

2. Serangga dapat terinfeksi mikrosporidia karena menelan sporanya. Spora kemudian tumbuh dan membentuk tabung kutub ke dalam sel epitel usus tengah serangga. Selanjutnya, spora menginjeksikan sporoplasma ke dalamnya untuk memulai reproduksi secara aseksual. Mikrosporidia lalu menyebar ke berbagai jaringan dan organ, memperbanyak diri, dan terkadang mengakibatkan kerusakan jaringan serta septisemia. Sebelum inang yang terinfeksi mati, spora biasanya dikeluarkan melalui muntahan atau fesesnya.

3. Infeksi spora pada serangga sehat dapat berasal dari muntahan dan feses inang atau disebarkan ketika inang mati. Mikrosporidia juga dapat ditransmisikan dari betina yang terinfeksi kepada keturunannya secara transovarium atau transovum. Mikro-sporidia juga dapat ditransmisikan dari individu yang terinfeksi kepada individu sehat melalui oviposisi serangga parasitoid.

4. Mikrosporidia adalah entomopatogen yang membutuhkan waktu harian atau mingguan untuk melemahkan inangnya. Serangga yang sedang dalam keadaan lemah karena terinfeksi mikrosporidia akan lebih rentan terhadap cuaca buruk dan faktor-faktor kematian lainnya. Jika tingkat infeksi tinggi, serangga akan mengalami kematian.

5. Nosema locustae adalah satu-satunya jenis mikrosporidium yang tersedia secara komersial untuk mengendalikan lebih dari 90 jenis belalang dan jangkrik.

6. Nematoda entomopatogen yang paling potensial sebagai agen pengendali hayati serangga adalah dari marga Steinernema dan Heterorhabditis. Nematoda tidak mempunyai pesaing dari agen hayati lain dalam mengendalikan hama serangga yang hidup di tanah. Lima jenis nematoda yang ada di pasaran adalah S. carpocapsae, S. riobravis, S. feltiae, H. bacteriophora, dan H. megidis

7. Siklus hidup Steinernema dan Heterorhabditis dimulai ketika juvenil infektif mencari inang. Nematoda menggunakan CO2 dan senyawa kimia lain dari produk sisa serangga sebagai pertanda untuk menemukan inangnya. Nematoda akan menembus rongga tubuh serangga yang ditemukannya melalui mulut, anus, dan spirakel. Heterorhabditis dapat masuk dengan menembus dinding tubuh inang. Di dalam rongga tubuh, bakteri yang bersimbiosis dengan nematoda akan dilepaskan. Bakteri segera memperbanyak diri, mengakibatkan septisemia, dan membunuh inang dalam waktu 24-48 jam. Nematoda berkembang dengan memakan bakteri dan jaringan inang hingga mencapai dewasa. Nematoda menyelesaikan dua atau tiga generasi di dalam setiap serangga. Juvenil infektif Steinernema akan menjadi jantan atau betina. Juvenil Heterorhabditis akan berkembang menjadi hermaprodit, meskipun generasi selanjutnya akan menghasilkan jantan dan betina juga. Daur hidup diselesaikan dalam beberapa hari, dan ribuan juvenil infektif baru akan muncul mencari inang yang segar.

8. Xenorhabdus nematophilus dan Photorhabdus luminescens adalah dua jenis bakteri patogen yang bersimbiosis dengan nematoda Steinernema dan Heterorhabditis. Interaksi antara bakteri Xenorhabdus dan nematoda inang bersifat spesifik. X. nematophilus hidup bersimbiosis dengan Steinernematidae, sedangkan P. luminescens dengan Heterorhabditidae. Pertumbuhan dan reproduksi nematoda sangat tergantung pada kondisi yang diciptakan bakteri pada inang. Sebaliknya, bakteri tergantung pada nematoda untuk menentukan lokasi inang dan menembusnya.

9. Proses pemilihan inang (host selection) pada nematoda entomopatogen terdiri atas empat tahap, yaitu penemuan habitat inang, penemuan inang, penerimaan inang, dan kesesuaian inang. Setiap tahap tindakan akan menjadi saringan biologis yang akan mempersempit kisaran hama nematoda.

10. Nematoda paling beradaptasi dengan lingkungan serangga tanah. Nematoda penjelajah seperti S. glaseri dan H. bacteriophora cenderung sangat aktif mencari inang, sedangkan jenis penyergap seperti carpocapsae dan S. scapterisici cenderung diam di tempat. S. riobravis dan S. feltiae adalah jenis-jenis antara. Nematoda harus mampu mengenali inangnya dengan baik sehingga tidak membuat suatu kesalahan. Hanya nematoda yang benar-benar beradaptasi saja yang dapat menginfeksi inang.

Setelah inang ditemukan, dikenali, dan diinfeksi, nematoda harus mampu mematahkan respons kekebalan inang dengan protein anti kekebalan yang dihasilkannya.

Struktur dan Klasifikasi Nematoda

Klas nematoda terdiri dari bebrapa spesies tidak hanya bersifat parasitik terhadap manusia, namun juga terhadap binatang, tumbuhan baik yang diusahakan maupun liar.

Nematoda merupakan organisme yang mempunyai struktur sederhana. Nematoda dewasa tersusun oleh ribuan sel-sel somatik, ratusan sel diantaranya membentuk sistem reproduksi.  Tubuh nematoda berupa tabung yang disebut sebagai pseudocoelomate.

Kutikula: Merupakan bagian dinding tubuh bagian luar yang berfungsi sebagai pelindung bagian di bawahnya.

Ciri morfologi nematoda:

  1. Tubuhnya tidak bersegmen.

  2. Bentuknya silindris memanjang, kecuali pada beberapa genera yang berjenis kelamin betina.

  3. Simetris bilateral.

  4. Merupakan binatang yang mempunyai tiga lapisan (triploblastik) atau terdiri dari tiga lapis blastula (lapisan ini terbentuk dan berkembang di dalam telur).

  5. Mempunyai rongga tubuh semu.

  6. Tubuhnya transparan (dan tidak berwarna).

  7. Memiliki sistem organ tubuh lengkap, yang berupa sistem pencernaan (memanjang dengan bentuk esofagus yang bervariasi)  sistem ekskresi, sistem syaraf, sistem pengeluaran, dan sistem reproduksi.  Tidak memiliki sistem peredaran darah.

  8. Nematoda parasit tanaman biasanya mempunyai stilet.

Dinding tubuh nematoda terdiri dari:

  1. Kutikula luar

  2. lapisan antara

  3. hipodermis ——> mensekresikan kutikula baru

  4. bagian dalam otot membujur

October 15, 2008

 

Gejala Penyakit Daun Padi Menguning
Tgl Publis: 12-10-2008(totonhptunsio2)

 

 

 

Setelah dilakukan pengujian, pemantauan, dan taksasi kehilangan hasil di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, daun padi yang menguning bukan terkena serangan penyakit tungro. Penyakit tersebut diduga sebagai gejala penyakit kerdil rumput tipe 2 (Rice Grassy Stunt Virus type 2).

Hasil Identifikasi Penyakit

Pengamatan Visual

Hasil identifikasi gejala secara visual menunjukkan kemiripan dengan gejala penyakit tungro, tetapi ada beberapa perbedaan, antara lain: (a) Dalam satu rumpun yang terserang kadang hanya beberapa anakan atau bahkan gejala hanya pada beberapa daun saja, sedangkan pada penyakit tungro biasanya satu rumpun terserang hampir semua anakannya, (b) Gejala kuning kadang hanya terjadi pada daun bawah/daun tua, sedangkan pada penyakit tungro sebaliknya gejala ditunjukkan pada daun muda, dan (c) Tanaman yang terserang pada stadia dewasa daunnya berwarna kuning-oranye, tetapi lebar daun normal, jumlah anakan, dan tinggi tanaman sama dengan tanaman sehat.

 

Uji Yodium

Hasil uji yodium menunjukkan reaksi yang positif seperti halnya pada daun padi yang terserang tungro. Artinya, terdapat akumulasi pati pada jaringan pembuluh daun tanaman padi yang bergejala kuning tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan gejala tersebut disebabkan oleh serangan patogen dari jenis virus tanaman, karena akumulasi karbohidrat/pati ini merupakan ciri dari aktivitas serangan virus tanaman pada umumnya.

Uji Penularan

Hasil uji penularan menggunakan vektor wereng hijau dengan teknik penularan seperti penularan penyakit tungro, tidak menunjukkan adanya gejala setelah 2 - 4 minggu setelah inokulasi. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit dengan gejala mirip tungro tersebut, tidak dapat ditularkan oleh wereng hijau, berarti bukan merupakan penyakit tungro.

Selanjutnya dilakukan uji penularan dengan menggunakan wereng coklat, yang mengacu pada literatur bahwa penyakit tersebut identik dengan gejala penyakit kerdil rumput tipe 2 (Rice grassy stunt virus 2) yang pernah muncul di Indonesia tahun 1980-an. Penularan dilakukan menggunakan vektor wereng coklat dengan metode test tube. Wereng coklat diberi kesempatan untuk menghisap/makan pada tanaman sakit yang diambil dari lapang, kemudian setelah 7 hari kemudian wereng tersebut dipaksa untuk menghisap/makan pada tanaman sehat berumur 10 hari dengan 2 ekor wereng per tanaman dilakukan dalam tabung uji. Selain 7 hari masa laten virus dalam wereng, juga diuji penularan pada masa laten 8 – 15 hari dengan cara yang sama. Hasil uji penularan menggunakan wereng coklat sebagai vektor sudah menunjukkan gejala yang sama dengan gejala di lapangan. Hasil penularan dengan masa laten 7 hari, setelah 3 MSI menunjukkan insiden penyakit 80%.

Dari hasil uji penularan ini dapat diketahui bahwa penyakit kuning tersebut bukan penyakit tungro, tetapi kemungkinan penyakit RGSV tipe 2 seperti yang pernah terjadi di Jawa Barat pada tahun 1980-an.

Untuk lebih memastikan penyebab penyakit ini, telah dilakukan reinokulasi dari tanaman sakit hasil inokulasi ke tanaman sehat. Hasil reinokulasi ini akan diketahui setelah 2-3 minggu kemudian. Selain itu uji serologi sedang dilakukan di BB Biogen Bogor untuk memastikan bahwa penyakit ini bukan penyakit tungro. Uji molekuler juga akan dilakukan untuk memastikan penyebab penyakit menguning mirip tungro ini yang sebenarnya.

Hasil Pemantauan Penyakit di KP Sukamandi

Hasil pemantauan penyakit padi dengan gejala menguning mirip tungro di Sukamandi pada MH 2006/2007 dengan umur pertanaman mencapai 5 – 7 MST menunjukkan bahwa keberadaan penyakit pada lokasi pengamatan kurang dari 4% dengan rata-rata 2, 02%.

Wereng coklat berkembang lebih baik pada musim hujan. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan pada musim hujan (MH). Peningkatan populasi wereng coklat dapat dijadikan indikator awal akan meningkatnya serangan penyakit RGSV-II ini.